EENS (Extra Ecclesiam Nulla Salus)
Terjemahan EENS (Extra Eccesiam nulla salus) adalah: di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan. Banyak orang salah paham dengan ajaran ini, dan menganggap Gereja Katolik ‘arogan‘ karena mengajarkan EENS. Namun sebenarnya kalau kita memahami alasannya, maka kita melihat bahwa Kristuslah yang sesungguhnya memberikan prinsip EENS ini, yaitu: (1) Gereja tidak pernah terlepas dari Kristus; (2) Ajaran iman dan baptisan yang diperlukan untuk keselamatan dipercayakan kepada Gereja; (3) Gereja menjadi sarana keselamatan.
Kristus menyatakan bahwa Dia adalah kepala dan Gereja adalah Tubuh mistik Kristus, serta Dia adalah mempelai pria dan Gereja adalah mempelai wanita (lih. Kol 1:18; Ef 5:22-33). Dengan demikian, kalau Kristus sendiri mendirikan Gereja di atas rasul Petrus (lih. Mat 16:16-19) dan Kristus sendiri mengajarkan monogami – satu pria dan satu wanita dalam perkawinan (lih. Ef 5:31; bdk. Why 21:9) – maka Gereja hanya mungkin satu dan tidak mungkin terpisahkan dari Kristus, sama seperti tubuh tidak terpisahkan dari kepalanya (lih. Ef 5:23).
Kristus mengajarkan perlunya iman dan Pembaptisan untuk keselamatan (lih. Mrk 16:16, Yoh 3:5, Mat 28:19). Dengan demikian Kristus menegaskan perlunya Gereja -yaitu Gereja yang didirikan oleh-Nya di atas Rasul Petrus- yang melaluinya kita memperoleh ajaran iman, baptisan dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya serta menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya. Namun demikian, ajaran ini tidak untuk dipertentangkan dengan kehendak Allah untuk menyelamatkan semua umat manusia (lih. 1 Tim 2:4).
Kita melihat bahwa Kristus ingin menjadikan Gereja menjadi sarana keselamatan. Namun demikian, EENS ini juga harus dimengerti dengan benar, yaitu seperti yang dimengerti oleh Gereja: (a) kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus untuk semua umat manusia; dan (b) pentingnya Gereja untuk keselamatan manusia (lih. Dominus Iesus 20).
Dua hal tersebut harus dimengerti secara seimbang, karena menekankan yang satu dan melupakan yang lain dapat menyebabkan pengertian yang salah. Di satu sisi, memang kita harus melihat bahwa Kristus menginginkan keselamatan bagi seluruh umat manusia (lih. 1Tim 2:4), namun di sisi yang lain, Kristus menghendaki agar keselamatan itu disampaikan kepada semua bangsa oleh Gereja-Nya (lih. Mat 28:1-20). Keselamatan itu diperoleh karena kasih karunia Allah, oleh iman (Ef 2:8) yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6); sebab tanpa iman, tidak ada seorangpun yang dapat menyenangkan Allah (lih. Ibr 11:1). Iman yang menjadi syarat mutlak keselamatan ini adalah iman yang adikodrati, yaitu percaya akan adanya Tuhan, yang memberi upah bagi orang yang dengan tulus mencari Dia (lih. Ibr 11:6). Maka orang yang dengan tulus seturut hati nuraninya mencari Allah -yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak sampai kepada pengenalan akan Kristus dan Gereja-Nya, namun hidup dalam kasih yang sempurna – dapat diselamatkan oleh jasa Kristus, karena orang tersebut juga tergabung dalam Gereja-Nya, dalam keinginan (lih. KGK 847; bdk. LG 16).
Namun demikian kita menyadari bahwa Gereja, sebagai Tubuh mistik Kristus – diperlukan untuk keselamatan, karena persatuannya dengan Kristus. Oleh karena itu, bagi orang yang mengetahui bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Kristus dan diperlukan untuk keselamatan, namun tidak mau masuk atau tinggal di dalamnya, maka ia tidak dapat diselamatkan (lih. KGK 846; bdk. LG 14).
Maka Konsili Vatikan II tidak mengubah ajaran EENS (Di luar Gereja tidak ada keselematan) yang sudah berakar sejak abad- abad awal. Namun Konsili Vatikan II menyampaikan rumusan ajaran tersebut dengan kalimat yang berbeda, yaitu dengan kalimat positif, sebagaimana disebutkan dalam Katekismus Gereja Katolik:
“Di luar Gereja tidak ada keselamatan”
KGK 846 Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:
“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (Lumen Gentium 14).
KGK 847 Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:
“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (Lumen Gentium 16; Bdk. DS 3866 – 3872).
KGK 848 “Meskipun Allah melalui jalan yang diketahui-Nya dapat menghantar manusia, yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil, kepada iman yang merupakan syarat mutlak untuk berkenan kepada-Nya, namun Gereja mempunyai keharusan sekaligus juga hak yang suci, untuk mewartakan Injil” (Ad Gentes 7) kepada semua manusia.
Ajaran tentang EENS inilah yang mendorong Gereja Katolik untuk melakukan karya-karya misi ke seluruh dunia.
Selanjutnya, yang termasuk di dalam Gereja Katolik adalah: 1) Semua orang yang dipanggil ke dalam kesatuan katolik umat Allah; 2) Mereka yang tergabung sepenuhnya dalam serikat Gereja; 3) Mereka yang disebut Kristen walaupun tidak mengakui iman Katolik secara keseluruhan, atau tidak memelihara kesatuan di bawah kepemimpinan Paus sebagai penerus Rasul Petrus.
Selengkapnya, hal ini dijabarkan dalam Katekismus sebagai berikut:
KGK 836 “Jadi kepada kesatuan katolik Umat Allah itulah, yang melambangkan dan memajukan perdamaian semesta, semua orang dipanggil. Mereka termasuk kesatuan itu atau terarah kepadanya dengan aneka cara, baik kaum beriman katolik, umat lainnya yang beriman akan Kristus, maupun semua orang tanpa kecuali, yang karena rahmat Allah dipanggil kepada keselamatan” (LG 13).
KGK 837 Dimasukkan sepenuhnya ke dalam serikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para Uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, Sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta kasih; jadi yang dengan badan memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak dengan hatinya” (LG 14).
KGK 838 “Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan ia berhubungan dengan mereka, yang karena dibaptis mengemban nama Kristen, tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan di bawah pengganti Petrus” (LG 15). “Siapa yang percaya kepada Kristus, dan menerima Pembaptisan dengan baik, berada dalam semacam persekutuan dengan Gereja Katolik, walaupun tidak sempurna” (UR 3). Persekutuan dengan Gereja-gereja Ortodoks begitu mendalam “bahwa mereka hanya kekurangan sedikit saja untuk sampai kepada kepenuhan yang membenarkan satu perayaan bersama Ekaristi Tuhan” (Paulus VI, Wejangan 14 Desember 1975 Bdk. UR 13-18).
Dasar dari Kitab Suci:
Mrk 16:16- Yesus mengajarkan syarat agar orang dapat diselamatkan, yaitu percaya dan dibaptis.
Mat 28: 19-20- Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk mewartakan Injil dan membaptis segala bangsa, dengan demikian menunjukkan peran Gereja sebagai sarana keselamatan.
Mat 16:16-19: Yesus mendirikan Gereja di atas rasul Petrus
Luk 10:16 – Yesus mengajarkan pentingnya mendengarkan utusan Kristus, yang diwakili oleh Gereja.
Ef 5; Ef 5:23 – Gereja adalah tubuh mistik Kristus dan mempelai wanita dengan Kristus sebagai kepala dan mempelai pria.
Yoh 3:5- Yesus mengajarkan pentingnya Baptisan untuk keselamatan.
1Tim 2:4- Allah menghendaki semua orang diselamatkan
Ibr 11:6- Hanya dengan iman orang dapat berkenan kepada Allah, yaitu iman akan adanya Allah yang memberi upah pada orang yang sungguh mencari Dia
Dasar dari Tradisi Suci:
St. Ignatius dari Antiokhia (-67):
“Jangan tertipu, saudara-saudaraku: jika seseorang mengikuti seorang pembuat skisma, ia tidak memperoleh Kerajaan Allah; jika seseorang berjalan di dalam ajaran yang aneh ia tidak mengambil bagian di dalam kisah sengsara (Passio) Kristus.” (Letter to Philadelphians 3:3)
“…Jika seseorang tidak berada di dalam tempat kudus (gereja), ia kekurangan roti Tuhan. Dan jika doa satu atau dua orang sangat besar kuasanya, betapa lebih lagi doa uskup dan seluruh Gereja. Barangsiapa yang gagal bergabung dalam penyembahanmu menunjukkan kesombongannya, dengan kenyataan bahwa ia menjadi seorang skismatik. Ada tertulis, “Tuhan menolak orang yang sombong”. Mari kita, dengan sungguh menghindari melawan uskup sehingga kita dapat tunduk kepada Tuhan.” (Letter to Ephesians, 3-5)
Origen (184-254):
“Bahkan jika seseorang dari mereka [yang di luar Gereja] ingin diselamatkan, biarlah ia datang ke rumah ini, sehingga ia dapat memperoleh keselamatan. Biarlah ia datang ke rumah ini, yang di dalamnya darah Kristus adalah tanda penebusan…. biarlah tak seorangpun menipu dirinya sendiri: [sebab] di luar rumah ini, yaitu di luar Gereja, tak seorangpun diselamatkan. Sebab mereka yang pergi ke luar, ia bertanggungjawab terhadap kematiannya sendiri.” (Homiliae in Jesu Nave 3:5; PG 12:841-42).
St. Cyprian (-258):
“Bagaimana mungkin seorang yang tidak bersama dengan Mempelai Kristus dan di dalam Gereja-Nya dapat ada bersama dengan Kristus?” (Epistle 52:1).
“Salus extra ecclesiam non est” /Tidak ada keselamatan di luar Gereja) (Epistle 72:21).
“Tidak, meskipun mereka harus menderita wafat demi pengakuan Nama-Nya, kesalahan orang-orang tersebut [yang memisahkan diri] tidak terhapus bahkan oleh darah mereka; dosa berat yang tak terhapuskan dari skisma tidak dapat dihapuskan bahkan oleh kemartiran… Tak seorangpun dapat mengklaim nama martir, mereka yang telah mematahkan kasihnya kepada saudara-saudaranya. Ini adalah ajaran Rasul Paulus, “Jika aku menyerahkan tubuhku untuk dibakar, namun aku tidak memiliki kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (The Unity of the Catholic Church, 14)
“Ia tak dapat lagi memiliki Tuhan sebagai Bapa-Nya, yang tidak mempunyai Gereja sebagai ibunya; …. Siapapun yang menghancurkan damai dan harmoni Kristus, bertindak melawan Kristus; barang siapa mengumpulkan di tempat lain di luar Gereja, mencerai beraikan Gereja Kristus…. Jika seseorang tidak menjaga kesatuan ini, ia tidak menjaga hukum Tuhan, ia telah kehilangan iman akan Bapa, Putera dan ia telah kehilangan hidupnya dan jiwanya.” (The Unity of the Catholic Church, 6)
St. Agustinus (354-431)
“Kasih yang dibicarakan oleh Rasul Paulus: “Kasih Tuhan dicurahkan kepada kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita” (Rom 5:5) adalah kasih yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang terpisah dari persekutuan Gereja Katolik. Dan untuk alasan ini meskipun mereka dapat “berbicara dengan bahasa-bahasa manusia maupun malaikat” (1Kor 13:1-3), hal itu tak berguna baginya. Sebab orang yang tidak mengasihi kesatuan Gereja tidaklah memiliki kasih Tuhan…” (De Baptismo 3:10,13; CSEL 51:212)
“Seseorang tidak dapat memperoleh keselamatan, kecuali di dalam Gereja Katolik. Di luar Gereja Katolik ia dapat memperoleh apapun kecuali keselamatan. Ia dapat memperoleh kehormatan, sakramen-sakramen, ia dapat menyanyikan alleluia, ia dapat menjawab amen, ia dapat memiliki Injil, ia dapat berkhotbah tentang iman di dalam nama Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus, tetapi tidak ada tempat lain selain di dalam Gereja Katolik ia dapat menemukan keselamatan.” (Discourse to the People of the Church at Caesarea, 6)
“Kenyataan [bahwa seseorang] wafat di luar Gereja membuktikan bahwa ia tidak memiliki kasih.” (De Baptismo 4:17,24; CSEL 51:250)
“Mereka yang karena ketidaktahuannya, dibaptis di sana [di kelompok skismatik], dengan berpikir bahwa kelompok itu adalah gereja Kristus, melakukan kesalahan serius yang derajatnya lebih rendah jika dibandingkan dengan mereka [yang menyebabkan skisma]; namun demikian mereka juga terluka oleh sakrilegi skisma….” (De Baptismo 1:5,6; CSEL 51:152)
“Rasul Paulus mengatakan: “Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.” (Tit 3:10). Tetapi mereka yang mempertahankan pandangan mereka, bagaimanapun salah dan menyimpangnya, namun tanpa berkeras dengan kehendak yang jahat, terutama mereka yang tidak memulai kesalahan [ajaran sesat] itu dengan praduga yang menentang ketentuan, tetapi yang menerimanya dari orang tua yang telah disesatkan dan telah menyimpang …. mereka yang mencari kebenaran dengan usaha yang sungguh-sungguh dan siap untuk dikoreksi ketika mereka telah menemukannya, tidak termasuk dalam golongan heretik/ bidat.” (Epistle 43:1; CSEL 34,2:85)
“Bukanlah masalah bahaya kehilangan emas atau perak, tanahmu atau peternakanmu atau kesehatan tubuhmu; kami memanggil jiwamu untuk meraih kehidupan kekal dan menghindari kematian kekal.” (Epistle 43:3,6; CSEL 34,2:88-89)
“Tetapi dapat terjadi beberapa dari orang-orang itu [yang sekarang terpisah] menjadi anggota kita di dalam rahasia pengetahuan Allah; adalah penting bahwa mereka harus kembali kepada kita. Betapa banyak mereka yang tidak menjadi anggota kita yang kelihatannya masih ‘di dalam’ dan betapa banyak orang yang menjadi anggota kita yang kelihatannya seperti ‘di luar’ kita. Dan mereka yang di dalam kita namun bukan anggota kita, ketika suatu kejadian terjadi, akan keluar; dan mereka yang menjadi anggota kita, tetapi sekarang berada ‘di luar’, ketika mereka memperoleh kesempatan, akan kembali.” (Enarr. in Psalms 106:14, CCL 40:1581)
Dasar dari Magisterium:
Paus St. Gregorius Agung (590-604), Moralia: “Kini Gereja universal yang kudus menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat benar-benar disembah kecuali di dalam diri Gereja sendiri, sambil meneguhkan bahwa mereka semua yang tanpa Gereja tidak pernah dapat diselamatkan.”
Paus Sylvester II, Pernyataan Iman, 991: “Aku percaya bahwa di dalam Baptisan semua dosa diampuni, dosa asal maupun dosa pribadi, dan aku mengakui bahwa di luar Gereja Katolik tidak ada seorangpun diselamatkan.”
Paus Innocentius III, Konsili Lateran ke 4, 1215: “Hanya ada satu Gereja universal bagi umat beriman, yang di luarnya tak ada seorangpun diselamatkan.”
Paus Bonifasius VIII, Bulla Unam Sanctam, 1302: “Kami diharuskan karena iman kita untuk percaya dan melestarikan bahwa hanya ada satu Gereja Katolik yang kudus, dan [Gereja] itu bersifat apostolik. Ini kami percaya dengan teguh dan kami maklumkan tanpa kondisi persyaratan. Di luar Gereja ini tidak ada keselamatan dan penghapusan dosa…. [Gereja] yang menyatakan satu tubuh mistik yang kepalanya adalah Kristus, sungguh milik Kristus, sebagai Tuhan. Dan di dalam ini, “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (Ef 4:5). Tentulah Nabi Nuh mempunyai satu bahtera pada zaman air bah, yang melambangkan satu Gereja yang sempurna dalam satu ukuran dengan mempunyai seorang pengatur dan pembimbing, yaitu Nabi Nuh, yang di luarnya kita semua membaca, semua mahluk hidup dihancurkan …. Kami menyatakan, mengatakan, menetapkan, dan mengumumkan bahwa adalah mutlak penting bagi keselamatan setiap manusia untuk berada di bawah pengaturan Imam Agung Roma.”
Konsili Florence (1439): “Semua yang ada di luar Gereja Katolik … tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal …. kecuali mereka bergabung dengan Gereja Katolik sebelum hidup mereka berakhir…. tak seorangpun dapat diselamatkan, tak peduli berapa banyak ia memberi derma dan bahkan jika ia menumpahkan darahnya di dalam nama Kristus, kecuali ia tetap bertahan di dalam pangkuan dan kesatuan dalam Gereja Katolik.”
Paus Leo XII (1823-1829), surat ensiklik Ubi Primum: “Adalah tidak mungkin bagi Tuhan yang sangat benar –yang adalah Kebenaran itu sendiri, yang terbaik, Penyelenggara yang paling bijaksana, dan pemberi upah kepada orang-orang baik– untuk menyetujui semua sekte yang mengajarkan ajaran-ajaran sesat yang seringnya tidak konsisten satu sama lain dan saling bertentangan, dan untuk memberikan penghargaan kekal kepada anggota-anggotanya. Sebab kita mempunyai perkataan yang lebih pasti dari sang nabi, dan dengan menulis kepadamu, Kami membicarakan kebijaksanaan di antara yang sempurna; bukan kebijaksanaan dunia ini, tetapi kebijaksanaan Tuhan di dalam msiteri. Olehnya kami diajarkan dan oleh iman ilahi kami berpegang kepada satu Tuhan, satu iman, satu baptisan dan bahwa tidak ada nama lain di bawah kolong langit yang diberikan kepada manusia kecuali nama Yesus Kristus dari Nasareth yang di dalamnya kita diselamatkan. Inilah mengapa kami menyatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja …. Sebab Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran. Dengan acuan kepada perkataan-perkataan St. Agustinus: “Jika seseorang ada di luar Gereja, ia tidak akan termasuk dalam bilangan anak-anak, dan tidak akan mempunyai Tuhan sebagai Bapa, sebab ia tidak mempunyai Gereja sebagai ibu.”
Paus Pius IX (1846-1878), Singulari Quadam, 1854: “Bukannya tanpa duka cita kami telah mengetahui bahwa kesalahan yang lain,…. telah diyakini oleh sebagian dunia Katolik, dan telah mengambil tempat kediaman di jiwa banyak umat Katolik, yang berpikir bahwa seseorang telah mempunyai pengharapan keselamatan kekal akan semua orang yang tidak pernah hidup di dalam Gereja Kristus yang sejati …. Tetapi sebagai tugas Apostolik Kami, kami mengharapkan agar kewaspadaan episkopal dibangkitkan, sehingga kamu akan bekerja keras semampumu, untuk mengenyahkan dari pikiran orang-orang yang tidak saleh dan pikiran yang sama fatalnya, yaitu bahwa jalan keselamatan kekal dapat ditemukan di agama manapun juga. Semoga kamu dapat membuktikan dengan kemampuan dan pengetahuan yang kamu sungguh kuasai, kepada orang-orang yang dipercayakan kepadamu, bahwa dogma iman Katolik tidaklah bertentangan dengan belas kasihan ilahi dan keadilan ilahi.”
“Sebab harus dipegang oleh iman bahwa di luar Gereja Roma yang Apostolik, tak seorangpun dapat diselamatkan; bahwa ini adalah satu-satunya bahtera keselamatan… tetapi, di sisi lain, juga perlu dipegang dengan yakin, bahwa mereka yang berkerja keras di dalam ketidaktahuan akan agama yang sejati, jika ketidaktahuan ini tidak terhindarkan (invincible), tidak akan dianggap bersalah tentang ini di mata Tuhan. Kini kenyataannya, siapa mau mengasumsikan begitu banyak menurut dirinya sendiri untuk menentukan batas-batas ketidaktahuan itu, oleh karena kodrat dan keberagaman bangsa, daerah, sikap batin, dan tentang begitu banyak hal lainnya? Sebab kenyataannya, ketika dibebaskan dari belenggu kesementaraan dunia, “kita akan melihat Tuhan sebagaimana adanya Ia” (1 Yoh 3:2), kita akan dengan sempurna memahami betapa dekat dan indahnya ikatan belas kasihan dan keadilan ilahi disatukan; tetapi selama kita berada di dunia, terbeban oleh tubuh yang fana yang menumpulkan jiwa, biarlah kita memegang dengan sangat teguh bahwa sesuai dengan ajaran Katolik, terdapat “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan” (Ef 4:5); adalah bertentangan dengan hukum untuk melanjutkan penyelidikan lebih jauh.”
“Tapi, seperti tuntutan jalan cinta kasih, marilah kita terus mengajukan doa-doa agar semua bangsa di manapun dapat menerima Kristus; dan mari kita mengarahkan perhatian kepada keselamatan bersama bagi manusia sesuai dengan kekuatan kita, “sebab tangan Tuhan tidak terlalu pendek” (Yes 9:1) dan karunia-karunia rahmat ilagi tidak akan kurang bagi mereka yang dengan tulus mengharapkan dan memohon agar disegarkan oleh terang ini.”
Paus Pius IX, Singulari Quidem, 1856: “Ajarkan bahwa sepertihalnya hanya ada satu Tuhan, satu Kristus dan satu Roh Kudus, maka hanya ada satu kebenaran yang diwahyukan secara ilahi. Hanya ada satu iman ilahi yang menjadi awal keselamatan bagi umat manusia dan dasar bagi semua justifikasi, iman yang olehnya orang benar hidup dan yang tanpanya tidak mungkin [seseorang] menyenangkan Tuhan dan masuk dalam komunitas anak-anak-Nya (Rom 1, Ibr 11, Konsili Trente, sesi 6, bab 8). Hanya ada satu Gereja yang sejati, kudus, Katolik, yaitu Gereja Roma yang Apostolik. Hanya ada satu Tahta yang didirikan di atas Petrus oleh sabda Tuhan (St. Cyprian, Epistle 43), yang di luarnya kita tidak dapat menemukan baik iman yang sejati ataupun keselamatan kekal. Ia yang tidak mempunyai Gereja sebagai ibu tidak dapat mempunyai Tuhan sebagai bapa dan siapapun yang mengabaikan Tahta Petrus yang di atasnya Gereja didirikan, salah percaya bahwa ia ada di dalam Gereja (ibid, On Unity of the Catholic Church)…. Di luar Gereja, tak seorangpun dapat berharap untuk hidup atau keselamatan, kecuali ia dibenarkan (excused) melalui ketidaktahuan yang di luar kendalinya.”
Paus Pius IX (1846-1878) Ensiklik Quanto conciamur moerore, 1863: “Dan di sini,…. Kami harus menyebutkan lagi dan mengecam kesalahan yang sangat berat di mana beberapa umat Katolik telah dengan salah memahami, yang percaya bahwa orang-orang yang hidup dalam kesesatan dan terpisah dari iman yang sejati dan kesatuan Katolik, dapat mencapai kehidupan kekal. Sungguh, ini jelas bertentangan dengan ajaran Katolik. Telah diketahui oleh Kami dan oleh kamu bahwa mereka yang berkerja keras di dalam ketidaktahuan yang tak terhindari (invincible ignorance) tentang agama kita yang tersuci dan yang dengan sungguh-sungguh menaati hukum kodrat dan ketentuannya yang diukirkan di dalam hati semua orang oleh Tuhan, dan yang siap sedia menaati Tuhan, yang hidup dalam kehidupan yang jujur dan lurus, dapat, dengan kuasa terang ilahi dan rahmat ilahi yang bekerja, memperoleh kehidupan kekal, sebab Tuhan yang dengan jelas melihat, menyelidiki, dan mengetahui pikiran-pikiran, jiwa, kebiasaan-kebiasaan semua manusia, oleh karena kebaikan-Nya dan belas kasih-Nya yang besar, tidak akan membuat seorangpun menderita untuk dihukum dengan siksa abadi, ia yang tidak bersalah karena dosa yang disengaja. Tetapi, dogma Katolik bahwa tak seorangpun dapat diselamatkan di luar Gereja Katolik telah dengan baik dikenal; dan juga bahwa mereka yang berkeras melawan otoritas dan ajaran-ajaran definitif Gereja yang sama, dan yang dengan keras kepala memisahkan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja, dan dari Imam Agung Roma –penerus Rasul Petrus yang kepadanya ‘penjagaan pokok anggur telah dipercayakan oleh Sang Penyelamat’ (Konsili Kalsedon, Letter to Pope Leo I)– tidak dapat memperoleh keselamatan kekal. Perkataan Kristus cukup jelas, “Dan jika ia tidak mendengarkan jemaat, perlakukanlah ia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai’ (Mat 18:17); ‘Ia yang mendengarkan kamu, mendengarkan Aku, dan ia yang menolak kamu, ia menolak Aku dan ia yang menolak Aku, menolak Bapa yang mengutus Aku’ (Luk 10:16); ‘Ia yang percaya tidak akan dihukum (Mrk 16:16); ‘Ia yang tidak percaya telah berada di bawah hukuman (Yoh 3:18)’ ‘Ia yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku; dan ia yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan’ (Luk 11:23). Rasul Paulus mengatakan bahwa orang-orang seperti ini adalah ‘sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri (Tit 3:11); Pemimpin para Rasul menyebutnya sebagai “nabi-nabi palsu … yang memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, dan menyangkal Tuhan yang menebus mereka: dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” (2 Pet 2:1)
Konsili Vatikan I (1868-1870) – sebagaimana dikutip kembali dalam KGK 161: “Percaya akan Yesus Kristus dan akan Dia yang mengutus-Nya demi keselamatan kita adalah perlu supaya memperoleh keselamatan (Bdk. misalnya Mrk 16:16; Yoh 3:36; 6:40). “Karena tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibr 11:6) dan sampai kepada persekutuan anak-anak-Nya, maka tidak pernah seorang pun dibenarkan tanpa Dia, dan seorang pun tidak akan menerima kehidupan kekal, kalau ia tidak ‘bertahan sampai akhir’ (Mat 10:22; 24:13) dalam iman” (Konsili Vatikan I, Dei Filius 3, DS 3012, Bdk. Konsili Trente: DS 1532 )
Paus Leo XIII (1878-1903), Ensiklik Annum Ingressi Sumus: “Ini adalah pengajaran terakhir kami kepadamu; terimalah ini, ukirkanlah di dalam sanubarimu, semua dari kamu: oleh perintah Tuhan, keselamatan harus ditemukan tidak di manapun kecuali di dalam Gereja.”
Paus St. Pius X (1903-1914), Ensiklik Jucunda Sane: “Adalah tugas kami untuk mengingatkan setiap orang… sebagaiman dilakukan oleh Paus Gregorius di abad-abad lalu, kepentingan yang mutlek yang adalah milik kita, untuk berlindung di bawah Gereja ini untuk memperoleh keselamatan kekal kita.”
Paus St. Pius X (1903-1914), Ensiklik Jucunda Sane: “Adalah tugas kami untuk mengingatkan setiap orang… sebagaiman dilakukan oleh Paus Gregorius di abad-abad lalu, kepentingan yang mutlek yang adalah milik kita, untuk berlindung di bawah Gereja ini untuk memperoleh keselamatan kekal kita.”
Paus Pius XI (1922-1939), Ensiklik Mortalium Animos: “Hanya Gereja Katolik yang melestarikan penyembahan yang sejati. Ini adalah mata air kebenaran, ini adalah rumah iman, ini adalah bait kediaman Allah; jika seseorang tidak masuk ke sini, atau pergi meninggalkannya, ia menjadi orang asing bagi harapan akan hidup ilahi dan keselamatan …. Selanjutnya, di dalam satu Gereja Kristus, tak seorangpun dapat atau tetap tinggal [di dalamnya], yang tidak menerima atau mengenali dan menaati otoritas dan keutamaan Petrus dan para penerusnya yang sah.”
Paus Pius XII, 1943, menjelaskan maksud pernyataan Paus Bonifasius VIII ini dalam surat ensikliknya Mystici Corporis, demikian: “Tapi kita tidak boleh berpikir bahwa Ia [Kristus] memerintah hanya secara tersembunyi atau hanya dengan cara yang luar biasa. Sebaliknya, Penebus kita juga memerintah Tubuh Mistik-Nya di dalam cara yang kelihatan dan normal melalui Wakil-Nya di dunia. Kamu mengetahui, saudara-saudaraku yang terhormat, bahwa setelah Ia sendiri memerintah “kawanan kecil” sepanjang perjalanan hidupnya di dunia, Kristus Tuhan kita, ketika hampir meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa, mempercayakan kepada Pimpinan para Rasul pemerintahan yang kelihatan akan keseluruhan komunitas yang telah didirikan-Nya. Karena Ia sepenuhnya bijaksana, Ia tidak dapat meninggalkan tubuh Gereja yang didirikan-Nya sebagai perkumpulan manusia tanpa kepala yang kelihatan (visible head). Tidak juga melawan ini, seseorang dapat berargumen bahwa keutamaan otoritas kepemimpinan yang didirikan di Gereja, memberikan kepada Tubuh Mistik Kristus dua buah kepala. Sebab keutamaan Petrus adalah hanya [sebagai] wakil Kristus; sehingga hanya ada satu Kepala pemimpin di dalam Tubuh ini, yaitu Kristus, yang tidak pernah berhenti untuk membimbing Gereja secara tidak kelihatan, meskipun pada saat yang sama Ia mengatur secara kelihatan, melalui dia yang menjadi wakil-Nya di dunia. Setelah Kenaikan-Nya yang mulia ke Surga, Gereja ini tidak hanya berdiri di atas Dia sendiri, tetapi di atas Petrus, juga, sebagai batu pondasi yang kelihatan. Bahwa Kristus dan wakil-Nya membentuk hanya satu Kepala adalah ajaran agung dari Pendahulu Kami yang kenangannya tetap hidup, Paus Bonifasius VIII dalam surat Apostoliknya Unam Sanctam, dan para penerusnya telah tidak berhenti mengulangi yang sama (Mystici Corporis 40).
Oleh karena itu, mereka berjalan di jalur kesalahan yang berbahaya, [yaitu mereka] yang percaya bahwa mereka dapat menerima Kristus sebagai Kepala Gereja, namun tidak melekat secara setia kepada Wakil-Nya di dunia. Mereka telah mengesampingkan kepala yang kelihatan, memecahkan ikatan-ikatan kesatuan yang kelihatan dan meninggalkan Tubuh Mistik Sang Penebus sedemikian samar-samar dan cacat, sehingga mereka yang mencari tempat pelabuhan keselamatan kekal tidak dapat melihatnya ataupun menemukannya….” (Mystici Corporis 41)
“…. mereka yang tidak menjadi bagian dalam Tubuh Gereja Katolik yang kelihatan…. Kami memohon kepada setiap orang dari mereka untuk menanggapi gerakan-gerakan rahmat di dalam batin, dan untuk menarik diri dari keadaan tersebut, di mana mereka tidak dapat menjamin keselamatan mereka (lih. Pius XI, Iam Vos Omnes, 1868). Sebab meskipun oleh hasrat yang tak disadari dan kerinduan untuk memiliki hubungan tertentu dengan Tubuh Mistik Penebus, mereka tetap kurang dapat memperoleh banyaknya karunia dan pertolongan surgawi yang dapat diterima hanya di dalam Gereja Katolik.” (Mystici Corporis, 103)
Katekismus Gereja Katolik: KGK 846-848, 836-838 :
KGK 846 Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:
“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (Lumen Gentium 14).
KGK 847 Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:
“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (Lumen Gentium 16; Bdk. DS 3866 – 3872).
KGK 848 “Meskipun Allah melalui jalan yang diketahui-Nya dapat menghantar manusia, yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil, kepada iman yang merupakan syarat mutlak untuk berkenan kepada-Nya, namun Gereja mempunyai keharusan sekaligus juga hak yang suci, untuk mewartakan Injil” (Ad Gentes 7) kepada semua manusia.
KGK 836 “Jadi kepada kesatuan katolik Umat Allah itulah, yang melambangkan dan memajukan perdamaian semesta, semua orang dipanggil. Mereka termasuk kesatuan itu atau terarah kepadanya dengan aneka cara, baik kaum beriman katolik, umat lainnya yang beriman akan Kristus, maupun semua orang tanpa kecuali, yang karena rahmat Allah dipanggil kepada keselamatan” (LG 13).
KGK 837 Dimasukkan sepenuhnya ke dalam serikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para Uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, Sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta kasih; jadi yang dengan badan memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak dengan hatinya” (LG 14).
KGK 838 “Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan ia berhubungan dengan mereka, yang karena dibaptis mengemban nama Kristen, tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan di bawah pengganti Petrus” (LG 15). “Siapa yang percaya kepada Kristus, dan menerima Pembaptisan dengan baik, berada dalam semacam persekutuan dengan Gereja Katolik, walaupun tidak sempurna” (UR 3). Persekutuan dengan Gereja-gereja Ortodoks begitu mendalam “bahwa mereka hanya kekurangan sedikit saja untuk sampai kepada kepenuhan yang membenarkan satu perayaan bersama Ekaristi Tuhan” (Paulus VI, Wejangan 14 Desember 1975 Bdk. UR 13-18).
Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium: LG 14 dan 16, sebagaimana telah disampaikan di kutipan Katekismus di atas.
Konsili Vatikan II, Dekrit tentang Ekumenisme, Unitatis Redintegratio, 3, “Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awal mula telah timbul berbagai perpecahan, yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak di hukum. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, yang seringnya karena kesalahan orang- orang di kedua belah pihak. Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan di besarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih. Sebab mereka itu, yang beriman akan Kristus dan dibaptis secara sah, berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja Katolik, meskipun persekutuan ini tidak sempurna. Perbedaan- perbedaan yang ada dalam derajat yang berbeda di antara mereka dan Gereja Katolik- baik perihal ajaran dan ada kalanya juga dalam tata-tertib, maupun mengenai tata-susunan Gereja, memang menciptakan banyak hambatan, kadang menjadi hambatan yang serius, terhadap persekutuan gerejawi yang penuh. Gerakan ekumenis bertujuan mengatasi hambatan-hambatan itu. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama Kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan.Kecuali itu, dari unsur-unsur atau nilai-nilai, yang keseluruhannya ikut berperanan dalam pembangunan serta kehidupan Gereja sendiri, beberapa bahkan banyak sekali yang sangat berharga, yang dapat ditemukan diluar kawasan Gereja katolik yang kelihatan: Sabda Allah dalam Kitab Suci, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, begitu pula kurnia-kurnia Roh Kudus lainnya yang bersifat batiniah dan unsur-unsur lahiriah. Itu semua bersumber pada Kristus dan mengantar kepada-Nya, dan memang selayaknya menjadi milik Gereja Kristus yang tunggal.
Tidak sedikit pula upacara-upacara agama kristen, yang diselenggarakan oleh saudara-saudari yang tercerai dari kita. Upacara-upacara itu dengan pelbagai cara dan menurut bermacam-ragam situasi masing-masing gereja dan jemaat sudah jelas memang dapat menyalurkan hidup rahmat yang sesungguhnya, dan harus diakui dapat membuka pintu memasuki persekutuan keselamatan.
Oleh karena itu Gereja-Gereja dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran dalam arti yang sepenuhnya, yang dipercayakan kepada Gereja Katolik.
Akan tetapi saudara-saudari yang tercerai dari kita, baik secara perorangan maupun sebagai komunitas dan Gereja, tidak menikmati kesatuan, yang oleh Yesus Kristus hendak dikurniakan kepada mereka semua, yang telah dilahirkan-Nya kembali dan dihidupkan-Nya untuk menjadi satu tubuh, bagi kehidupan yang serba baru, menurut kesaksian Kitab Suci dan tradisi Gereja yang terhormat. Sebab hanya melalui Gereja Kristus yang Katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya, bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petruslah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh kristus di dunia. Dalam tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk umat Allah. Selama berziarah di dunia, umat itu, meskipun dalam para anggotanya tetap tidak terluputkan dari dosa, berkembang dalam Kristus, dan secara halus dibimbing oleh Allah, menurut rencana-Nya yang penuh rahasia, sampai akhirnya penuh kegembiraan meraih seluruh kepenuhan kemuliaan kekal di kota Yerusalem sorgawi.”
Paus Yohanes Paulus II, dengan otoritas apostolik menyetujui Deklarasi Dominus Iesus, 2000, yang menyimpulkan:
“Di atas segalanya, haruslah diimani dengan teguh bahwa “Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya’. Ajaran ini harus tidak ditempatkan berlawanan dengan kehendak keselamatan Tuhan yang bersifat universal: Gereja yang satu adalah pengantara dan jalan keselamatan (cf. 1 Tim 2:4); “Adalah penting untuk menjaga dua kebenaran ini bersama-sama, yaitu, kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus untuk semua umat manusia dan pentingnya Gereja untuk keselamatan ini.”
Gereja adalah “sakramen keselamatan bagi semua orang”, karena, selalu bersatu secara misterius dengan Sang Juru Selamat Yesus Kristus, Kepalanya, dan tunduk kepada-Nya, ia mempunyai, di dalam rencana Tuhan, sebuah hubungan yang sangat diperlukan dengan keselamatan setiap manusia. Bagi mereka yang bukan merupakan anggota resmi dan yang kelihatan (visible) dari Gereja, “keselamatan di dalam Kristus dicapai dengan kebajikan rahmat, yang ketika mempunyai hubungan yang misterius dengan Gereja, tidak membuat mereka secara resmi bagian dari Gereja, tetapi [rahmat ini] menerangi mereka di dalam cara yang diakomodasikan dengan situasi rohani dan jasmani mereka. Rahmat ini datang dari Kristus; rahmat ini adalah hasil dari kurban-Nya dan disampaikan oleh Roh Kudus”; ia [rahmat ini] mempunyai sebuah hubungan dengan Gereja, yang “berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa” (Dominus Iesus, 20)
*FIK
Jumat, 31 Agustus 2012
Katedral: Tempat Surga dan Bumi Bertemu
Katedral: Tempat Surga dan Bumi Bertemu
Part I:
“ Uskupmu memimpin dengna duduk di tempat Allah” – St. Ignatius dari Anthiokia, Surat kepada Jemaat di Magnesia no. 6, 107 M
Ini adalah cuplikan surat St. Ignatius sebwaktu para serdadu kaisar memindahkan uskup ini dari keuskupannya di Syria untuk menjalani hukumannya di Roma.
Apakah yang dimaksud St. Ignatius dgn “ duduk di tempat Allah”, apakah ini “tempat” dalam arti lokasi atau berarti kehadiran atau pendampingan Allah?
Prof. Scott Hahn melakukan penelusuran dengan mengecek ke teks Yunani dan dia mendapatkan jawaban: kedua-duanya.
Untuk “tempat”, sejumlah manuskrip kuno menggunakan kata Yunani topos (lokasi) sedangkan yang lain menggunakan kata typos (wakil). – Surat St. Klemens dari Roma dan St. Ignatius dari Anthiokia
Hampir dipastikan, kita tidak tahu mana yang digunakan oleh St. Ignatius, maka dengan berserah kepada penyelenggaraan ilahi pemilihan akan dijatuhkan pada kata “typos”, seandainya salah, ia adalah kesalahan yang membahagiakan dari sejumlah penyalin yang tidak diketahui namanya.
Kedua makna diatas tidak dapat dipisahkan. Uskup memimpin jemaat sebagai wakil Allah di suatu keuskupan tertentu. Dan Uskup memimpin jemaat sebagai wakil Allah di dalam rumah Allah – yakni dalam Bait KudusNya – yang adalah Katedral. Kiranya mustahil berbicara mengenai katedral sebagai rumah Allah tanpa bicara mengenai Uskup sebagai gambaran dari ke-bapa-an Allah di bumi.
Kata Katedral memiliki asal-usul biblis yang kaya. Kata ini berasal dari kathedra (=tahta kehormatan) dan muncul dalam edisi Septuaginta (PL versi Yunani). Hanya satu kali Yesus menggunakan kata kathedra dalam arti ini, tapi pilihanNya sangat penting,
“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa (kathedra Mouseos). Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan padamu” – Mat 23:2-3
Disini, kathedra merupakan tempat duduk yang mengungkapkan wewenang di bidang agama dan moral; dari sana orang-orang bijaksana menyampaikan pengajaran dan pedoman hidup.
Alexander Sand (pakar Jerman) menuliskan bahwa sebagai tahta kebijaksanaan: “kathedra Mouseos” merupakan salah satu perabot permanent dari sinagoga…. Kathedra ini merupakan tempat duduk para ahli kitab dan orang Farisi waktu mereka menyampaikan ajaran resmi…. Ajaran mereka mengikat seluruh bangsa.
(Alexander Sand, “Kathedra”, Exegetical Dictionary of the New Testament, jilid 2, Grand Rapids, MI: Eerdmans Publising, 1991, 221)
Dari sini terlihat Yesus membedakan “kursi pengajaran” dari kursi-kursi lain yang hanya merupakan kursi kehormatan; untuk kursi kehormatan ini Yesus menggunakan kata yang berbeda, meskipun terkait dengan kata Yunani kathedra (lihat Mat 23:5, protokathedriai).
Di kalangan para penutur Yunani yang lebih luas, kathedra berarti kursi dari mana pada ahli filsafat mengajar murid-murid mereka. Dengan demikian, entah Yahudi atau Yunani, orang yang menduduki kathedra diakui sebagai guru dan pemandu masyarakat.
Dalam menetapkan perjanjian baru, Yesus tidak menghapuskan perjanjian lama atau struktur perjanjiannya. Yesus menerapkan pada diriNya sendiri peran dari para guru dan imam Israel, para nabi dan raja; dan peran itu Ia delegasikan kepada para rasulNya. Meskipun kathedra itu lebih tinggi dari semua kursi kehormatan yang lain, Yesus memberikan kepada kedua belas rasulNya sesuatu yang lebih tinggil lagi.
Yesus berkata, “ Aku berkata kepadamu: Sungguh, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di tahta kemuliaanNya, kamu, yang telah mengikuti Aku, akan duduk di atas dua belas tahta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Mat 19:28). Kepada mereka, Yesus menjanjikan tahta (thronoi), yakni kursi pengadilan yang cocok untuk para raja.
Para rasul akan menduduki tahta-tahta yang tinggi ini, tetapi mereka menyebut kedudukan mereka dengan menggunakan kata yang lebih mengungkapkan jabatan, yaitu episkope, yang dalam terjemahan Inggris kuno diterjemahkan menjadi “bishopric” (=keusukupan), meskipun secara harafiah kata itu berarti “jabatan” (Kis1:20). Secara sederhana, pemegang jabatan itu disebut “pejabat” atau “penilik” – episkopos (Yunani). Dari sini kita memperoleh kata Inggris “episcopacy” (=keuskupan).
Para pengemban jabatan ini, misalnya Timotius (1Tim 3:1), menerima jabatan atau pengangkatan mereka dari tangan para rasul sendiri. Kemudian, masing-masing di kotanya, mereka akan menduduki kathedra yang lebih tinggi daripada Kursi Musa. Seperti dikatakan oleh St. Ignatius, mereka akan “memimpin jemaat dengan duduk di tempat Allah”.
Part II
Penggalian-penggalian arkeologis telah menemukan banyak gereja-gereja milik jemaat Kristiani awal berdampingan dengan sinagoga-sinagoga Yahudi.
(Penggalian di Dura Europos, lihat Jack Finergan - Light from the Ancient Past, Princeton, N.J: Princeton University,1946—403.
Dalam desain dan dekorasi, keduanya mirip satu sama lain. Jemaat Kristen awal mempertahankan kathedra sebagai suatu perabot permanen dalam tempat-tempat ibadah mereka.
(Kemiripan rumah ibadah Kristiani dan Yahudi, lihat Rodney Stark, The Rise of Christianity – San Francisco: HarperCollins,1997—68-69)
Kursi ini diduduki oleh uskup; tahta ini mengungkapkan wewenangnya untuk mengajar, memimpin dan menguduskan. Sepanjang masa para Bapa Gereja—dan malah di seluruh dunia Kristiani—Uskup berkotbah tidak dari mimbar, tetapi dari kathedra-nya; di sana, selama berkotbah, ia tetap duduk. Dalam bahasa Latin ditulis cathedra dan tetap dipertahankan untuk mengungkapkan jabatan uskup dan wewenangnya dan (tentu saja) untuk menyebut gerejanya, yakni katedral, gereja dimana biasanya ia menyampaikan ajaran, kotbah dan berkat liturgis.
(Mengenai kursi kehormatan dalam kedua rumah ibadat: sinagoga dan gereja, lihat Steven J. Schloeder, Architecture in Communion – San Francisco: Ignatius, 1998—86. Lihat juga Louis Bouyer, Liturgy and Architecture – Notre Dame: Notre Dame University Press,1967—25-26, 32-34, 43-45.
Pemahaman Gereja mengenai tugas Uskup sudah mantap sejak masa yang sangat awal. Masa hidup St. Ignatius sebagian bersamaan dengan masa hidup para rasul. Ia adalah pengganti St. Petrus, yang kedua atau yang ketiga sebagai Uskup Anthiokia dan tradisi meyakini bahwa ia adalah muris St. Yohanes Rasul. Karena memiliki hubungan yang begitu dekat dengan para rasul, St. Ignatius merasa wajib menjaga dan membela keluhuran tugas rasuli yang ia emban.
"Hendaknya kita memandang uskup seperti kita memandang Tuhan sendiri” – St. Ignatius, Surat kepada jemaat di Efesus, no. 6
Kalau Uskup berdiri di tempat Tuhan, maka orang-orang Kristiani hendaknya berdiri bersama dia, “karena semua yang menjadi milik Allah dan milik Yesus Kristus juga menjadi milik uskup” – St. Ignatius, Surat kepada jemaat di Filadelfia, no. 3
Di dalam gereja uskup, jemaat berdiri di dekat dia, biasanya di depan kathedra-nya. Pada masa St. Ignatius, uskuplah pelayan yang lazim untuk sakramen-sakramen. Di lingkungan Gereja Anthiokia, para imam (=presbyteroi, Yun; priest, Ing) dan para diakon (=diakonoi, Yun; deacon, Ing) mengemban peran yang menonjol seperti dalam Gereja Perjanjian Baru pada zaman para rasul. Tetapi, kalau para imam dan para diakon itu memimpin perayaan sakramen, mereka selalu bertindak sebagai delegatus/utusan uskup.
“ Dalam kaitan dengan Gereja, janganlah seorangpun melakukan sesuatu tanpa uskup. Suatu perayaan Ekaristi hanya dianggap sah kalau dipimpin oleh uskup atau oleh orang yang diserahi tugas itu oleh uskup. Dimanapun uskup tampil, disana hendaknya berhimpun jemaat – sama seperti dimana Yesus Kristus hadir, disitu hadir juga Gereja Katholik. Tanpa persetujuan uskup, tidaklah sah menyelenggarakan pembaptisan atau agape. Sebaliknya, apapun yang disahkan oleh uskup berkenan pada Allah. “
St. Ignatius, Surat kepada jemaat di Smyrna, no. 8
Sudah menjadi kebiasaan bagi uskup untuk merayakan liturgi Gereja setempat dibantu oleh semua klerusnya, dan dikelilingi oleh jemaat kaum beriman yang sudah dibaptis di kota itu. Perayaan seperti ini, oleh Ignatius disebut “harmoni ilahi.”, sebab di istu tertata rapi ketiga jenjang klerus:
1. “Uskupmu duduk di tahta Allah,
2. dan para imammu duduk di kursi dewan para rasul,
3. didampingi oleh para diakonmu”
Perayaan ini merupakan peristiwa “ilahi”, sebab ia mencerminkan apa yang terjadi di surga. Sudah lama para komentator mencatat kemiripan antara liturgi yang dilukiskan oleh St. Iganatius dan pemandangan yang dilukiskan oleh St. Yohanes Rasul dalam kitab Wahyu. Dalam penglihatan St. Yohanes Rasul, ia menyaksikan dua puluh empat tua-tua (=presbyteroi, priest, imam) berdiri dalam barisan setengah lingkaran mengelilingi tahta Allah, dan bersama mereka bergabung juga banyak makhluk saleh yang melambungkan pujian, “ Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah segala Kuasa”
(Why 4: bk. Dom Gregory Dix, The Shape of the Liturgy—New York: Seabury,1982—28f. Lihat juga Didascalia Apostolorum: “Dan untuk para imam hendaknya disediakan tempat khusus di sisi timur rumah ibadat, dan di tengah mereka hendaknya ditempatkan kursi uskup”. Didascalia Apostolorum dalam bahasa Syria, edisi dan terjemahan A. Voobus—Louvain: CSCO,1979—no. 130-131. Lihat juga Scott Hahn, The Lamb’s Supper—New York: Doubleday,1999. Terjemahan Indonesia: Perjamuan Anak Domba, Malang: Dioma, 2007)
Jadi, sebagaimana Allah memimpin liturgi di surga, dikelilingi oleh para rasul dan para kudusNya, demikian pula uskup memimpini di bumi dengan duduk “di tahta Allah”, dikelilingi oleh para klerus dan jemaatnya.
Bagi St. Ignatius dan St. Yohanes, tidak ada dua liturgi tapi hanya ada satu liturgi. Ini merupakan ajaran penting yang membedakan kekristenan awal dari Yudaisme zaman Bait Allah kedua dan agama Israel awal. Umat Israel kuno memandang liturgi mereka yang di bumi sebagai tiruan liturgi surgawi yang diilhamkan oleh Allah.
Baik Musa maupun Salomo membangun tempat kediaman Allah di bumi—kemah suci dan Bait Allah—seturut pola dasar surgawi yang diwahyukan oleh Allah sendiri (Kel 25:8-9, 1Taw 28:19, Keb9:8). Keyakinan ini diungkapkan oleh para nabi secara mistik, ketika mereka melukiskan bagaimana para malaikat beribadat di tengah nyanyian dan pujian yang terdengar jelas datang dari Bait Allah di Yerusalem (Yes 6:1-7). Madah yang dilambungkan oleh para malaikat adalah nyanyian yang sama yang dilagukan oleh para Lewi di depan ruang mahakudus di bumi. Apa yang dilakukan oleh para imam di ruang mahakudus Bait Allah di bumi adalah tiruan atas apa yang dilakukan oleh para malaikat di surga.
Tetapi, ibadat di bumi itu hanyalah bayangan dari ibadat para malaikat—dan hanyalah bayangan dari ibadat yagn akan disahkan pada zaman Mesias.
Dengan menggunakan tubuh insani, Putra Allah yang kekal telah membawa surga turun ke bumi. Umat Allah tidak lagi beribadat dengan meniru ibadat para malaikat. Dalam liturgi PB, Kristus sendiri yang memimpin liturgi itu, kita tidak hanya meniru para malaikat, tetapi bersama mereka, kita ambil bagian dalam liturgi surgawi.
Inilah yang dilihat St. Ignatius dari kathedra di dalam Gerejanya di Anthiokia dan inilah yang ia lukiskan dalam Surat kepada Jemaat di Magnesia. Dan lebih dari itu, itulah yang dilaksanakan oleh para uskup dewasa ini apabila mereka memimpin dengan duduk “di tahta Allah” dalam liturgi surga dan bumi.
Uskup Agung Wina, Kardinal Christoph Schonborn, menulis: “ Dalam perayaan Ekaristi, surga turun ke bumi, dan Gereja di bumi menengadah, membuka diri kea rah rumah surgawinya”
(Living the Catechism of the Catholic Church, jilid 2: The Sacraments, terjemahan John Saward—San Francisco: Ignatius, 2000—100)
Part III:
Sesudah eksodus dari Mesir (bangsa Israel mengembara di padang gurun), Allah memberikan kepada Musa “contoh kemah suci dan contoh segala perabotnya” (Kel 25:9). Dengan mengikuti contoh itu, Musa memerintahkan pembangunan Kemah Suci, tempat kehadiran Allah di tengah umat pilihanNya, yang dapat dibawa kemana-mana. Berabad kemudian, di Yerusalem, Allah memberikan kepada Daud “rancangan Bait Suci dan ruang-ruangnya, yakni kamar perbendaharaan, kamar-kamar atas dan kamar-kamar dalam serta rancangan untuk tahta kerahiman” (1 Taw28:11). Kepada Raja Salomo, putranya, Allah memberikan wewenang untuk menyebut Bait SuciNya itu dengan dengan “rumah Tuhan” dan “rumah Allah” (1Taw28:20-21).
Orang-orang Kristiani awal melihat Kemah Suci dan Bait Allah itu sebagai “gambaran” biblis yang melukiskan Gereja Kristiani masa depan. Baik Kemah Suci maupun Bait Allah adalah tempat ibadah di bumi yang akan memperoleh penggenapannya dalam ibadat surga dan bumi yang secara terinci kita temukan di dalam buku-buku PB, yakni Surat kepada Orang Ibrani (Ibr 8-10) dan Kitab Wahyu (Why 11:19). Gereja yang sedang beribadat mencakup realitas yang oleh orang-orang Katholik, secara tradisional, disebut Gereja yang Berjuang (Gereja yang dibumi), Gereja yang Jaya (di surga) dan Gereja yang Menderita (di api penyucian).
Apabila orang-orang Kristiani awal berbicara mengenai Gereja, yang mereka maksudkan bukan hanya Gereja Universal yang dilihat secara keseluruhan, tetapi juga Gereja Partikular yakni komunitas setempat bahkan juga setiap bangunan Gereja. Sebab, setiap altar adalah tempat dimana surga turun menyentuh bumi (dalam perayaan Ekaristi).
Sejumlah Gereja Kristiani Timur—yang tetap melestarikan banyak kosa kata Kristiani awal—gereja-gereja masih disebut “Bait Kudus” (istilah ini juga akan ditemukan dalam prasasti-prasasti yang tertulis pada gereja-gereja tua di Roma).
Bagi orang-orang kristiani awal, uskup “memimpin dengan duduk di tahta Allah”, artinya di rumah Allah yang di bumi, di bait kudusNya yang di bumi ini, dalam ibadat, disatukan dengan bait kudus di surga.
Dalam Didascalia Apostolorum (Pengajaran Para Rasul) +/- abad ketiga atau empat, telah mewariskan kepada kita suatu teologi biblis yang mendalam mengenai peran uskup dalam Gereja Allah:
“Sekarang, hai para uskup, kamu adalah imam-imam bagi umatmu; kamu adalah para Lewi yang melayani Kemah Suci Allah, yakni Gereja Katholik yang kudus, yang terus menerus berdiri di hadirat Tuhan Allah. Maka bagi umatmu, kamu adalah imam dan nabi, pangeran, pemimpin dan raja, pengantara antara Allah dan umatNya dan orang-orang yang mengenal Kitab Suci dan ucapan-ucapan Allah; kamu adalah saksi dari kehendak Allah, yang menanggung dosa semua orang dan harus memberikan jawaban kepada semua orang… Sebagaimana kamu telah merengkuh beban semua orang, demikian pula buah-buah yang kamu terima dari seluruh umat akan menjadi milikmu, untuk memenuhi segala sesuatu yang kamu butuhkan. Rawatlah baik-baik mereka berkekurangan, seolah-olah kamu harus memberikan pertanggungjawaban kepada Dia yang akan menuntutnya; Dia tidak mungkin melakukan kesalahan dan tidak dapat dihindarkan. Karena, sebagaimana kamu melayani keuskupan, demikianlah – dari pelayanan kepada keuskupan ini – kamu berhak memperoleh perawatan, seperti para imam, para Lewi dan para pelayan yang melayani di hadapan Allah, sebagaimana tertulis dalam Kitab Bilangan” – DA no. 8
Para Uskup harus membimbing, memperlengkapi, mengajar, merawat, menjadi perantara, menerima penghormatan serta penghargaan dan mengemban tanggung jawab untuk jemaat mereka. Singkatnya, mereka harus memainkan peran sebagai seorang ayah dalam suatu keluarga.
Gagasan ini berakar kuat dalam PL. Pada masa para Bapa Bangsa (Nuh, Abraham, Yakub) tidak ada kelas kelompok imami. Dalam setiap keluarga seorang ayah berperan sebagai imam, pemimpin doa dank urban, guru dan pengantara. Tatanan keluarga kudus ini masih tetap bertahan selama masa perbudakan di Mesir dan pengembaraan di padang gurun. Para bapa Israel baru kehilangan hak khusus ini ketika mereka jatuh dalam dosa yang keji karena menyembah anak lembu emas. Waktu itu hanya suku Lewi yang tetap setia kepada Allah dan karena itu hanya merekalah yang tetap mempertahankan martabat imamat. Tetapi, sesudah itupun, fungsi imamat tetap menjadi bagian dari fungsi seorang bapa keluarga.
Dalam kitab Hakim-hakim, kita temuka bahwa ketika seorang Lewi tampak berdiri di muka pintu Mikha, ia memohon “tinggallah padaku dan jadilah bapa serta imam bagiku” (Hak17:10). Satu bab kemudian, hampir kata demi kata, permohonan Mikha digemakan oleh salah seorang dari suku Dan, “ikutlah kami dan jadilah bapa serta imam kami.” (Hak18:19). Panggilan itu terus bergema dalam hati orang-orang Kristiani awal.
Dengan duduk di tahta Allah, seorang uskup tidak bisa tidak adalah seorang bapa, sebab jati diri Allah adalah “Bapa” dan yang dikerjakan Allah adalah pekerjaan seorang Bapa. St. Ignatius tahu akan hal ini, oleh karena itu ia berani membandingkan dirinya sendiri dengan Allah, Bapa. Rasul Paulus telah melakukan hal yang lebih kurang sama, “Itulah sebabnya aku Sujud kepada Bapa, yang dari padaNya semua martabat bapawi yang di surga dan di bumi menerima namanya” (Ef 3:14-15)
Kata Yunani yang kadang-kadang diterjemahkan “kebapaan” dan kadang-kadang diterjemahkan “keluarga” adalah patria, dalam bahasa Latin paternitas; dari sini kita memperoleh kata Inggris paternity (=kebapaan).
Part IV:
Dalam menelaah surat-surat St. Ignatius, pakar liturgi Inggris Gregory Dix menulis: “Kalau uskup memiliki fungsi perwakilan yang khas maka ia harus menjadi seperti ‘bapa dalam keluarga’ Allah… Ini dapat ditemukan dalam frasa ‘bapa di dalam Allah’ yang masih tetap bertahan: artinya, uskup duduk di tahta sebagai ‘gambar Allah’ dan ‘citra Bapa’.
(Gregory Dix, The Shape of the Liturgy,30)
Dalam Gereja awal, uskup mengamalkan peran mengajarnya sambil duduk pada kathedra-nya (pada tahtanya), tetapi ia mengamalkan peran imaminya sambil berdiri pada altar. Kedua peran ini adalah peran bapawi, dan liturgi sendiri yang memuncak dalam tindakan bapawi ilahi yang tertinggi, yang digenapi oleh uskup.
Rubik tertua untuk komuni kudus yang diambil dari Tradition Apostolica (Tradisi Rasuli) St. Hippolytus (215) berbunyi: Apabila uskup memecahkan roti, waktu membagikan satu potongan kepada setiap orang, hendaknya ia berkata “Roti Surga dalam Kristus Yesus”
(St. Hippolytus, Traditio Apostolica, no. 23.5)
Kegiatannya membagikan komuni adalah suatu gambaran dari tindakan Bapa mengutus Sang Putra, seperti dikatakan Yesus kepada jemaat yang berhimpun di sinagoga di Kapernaum, “BapaKu yang memberikan kepadamu roti yang benar dari Surga” (Yoh 6:32)
Dan apakah artinya cathedra? Apakah artinya tahta uskup yang mengungkapkan jabatannya? Dix menjawab, “ Sungguh, seperti diungkapkan oleh Kitab Wahyu – tahta uskup itu adalah tahta Allah dan tahta Anak Domba” (Why 22:3)
Disini, duduk di cathedra berarti “duduk di tahta Allah” dan dari situlah uskup memimpin-dari tahta Allah, sebagai gambaran khas dari Allah. Dalam liturg di katedral-baik pada masa ini maupun jaman para rasul- surga turun ke bumi. Ini adalah suatu kenyataan yang memesona.
Kita menemukan ungkapan ini dimaklumkan oleh Gereja dalam surat-surat perpisahan St. Ignatius dari Anthiokia sebagaimana dikutip dalam Katekismus Gereja Katholik (KGK) 1993:
“Liturgi adalah karya paripurna Kristus, Kepala dan Tubuh. Secara terus-menerus, Imam Agung kita merayakannya dalam liturgi surgawi bersama dengan Bunda Allah yang kudus, para rasul, semua orang kudus dan semua manusia yang telah masuk ke dalam Kerajaan Surga” – KGK #1187
“Bahkan mereka yang kini merayakan liturgi tanpa tanda-tanda sudah berada di dalam liturgi surgawi; di sana perayaan sungguh-sungguh merupakan persekutuan dan pesta.” – KGK #1136)
*FIK
Ulasan yang sangat baik, sekedar tambahan bahwa suksesi Apostolik mempunyai dasar biblis yaitu St Matias.
Part I:
“ Uskupmu memimpin dengna duduk di tempat Allah” – St. Ignatius dari Anthiokia, Surat kepada Jemaat di Magnesia no. 6, 107 M
Ini adalah cuplikan surat St. Ignatius sebwaktu para serdadu kaisar memindahkan uskup ini dari keuskupannya di Syria untuk menjalani hukumannya di Roma.
Apakah yang dimaksud St. Ignatius dgn “ duduk di tempat Allah”, apakah ini “tempat” dalam arti lokasi atau berarti kehadiran atau pendampingan Allah?
Prof. Scott Hahn melakukan penelusuran dengan mengecek ke teks Yunani dan dia mendapatkan jawaban: kedua-duanya.
Untuk “tempat”, sejumlah manuskrip kuno menggunakan kata Yunani topos (lokasi) sedangkan yang lain menggunakan kata typos (wakil). – Surat St. Klemens dari Roma dan St. Ignatius dari Anthiokia
Hampir dipastikan, kita tidak tahu mana yang digunakan oleh St. Ignatius, maka dengan berserah kepada penyelenggaraan ilahi pemilihan akan dijatuhkan pada kata “typos”, seandainya salah, ia adalah kesalahan yang membahagiakan dari sejumlah penyalin yang tidak diketahui namanya.
Kedua makna diatas tidak dapat dipisahkan. Uskup memimpin jemaat sebagai wakil Allah di suatu keuskupan tertentu. Dan Uskup memimpin jemaat sebagai wakil Allah di dalam rumah Allah – yakni dalam Bait KudusNya – yang adalah Katedral. Kiranya mustahil berbicara mengenai katedral sebagai rumah Allah tanpa bicara mengenai Uskup sebagai gambaran dari ke-bapa-an Allah di bumi.
Kata Katedral memiliki asal-usul biblis yang kaya. Kata ini berasal dari kathedra (=tahta kehormatan) dan muncul dalam edisi Septuaginta (PL versi Yunani). Hanya satu kali Yesus menggunakan kata kathedra dalam arti ini, tapi pilihanNya sangat penting,
“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa (kathedra Mouseos). Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan padamu” – Mat 23:2-3
Disini, kathedra merupakan tempat duduk yang mengungkapkan wewenang di bidang agama dan moral; dari sana orang-orang bijaksana menyampaikan pengajaran dan pedoman hidup.
Alexander Sand (pakar Jerman) menuliskan bahwa sebagai tahta kebijaksanaan: “kathedra Mouseos” merupakan salah satu perabot permanent dari sinagoga…. Kathedra ini merupakan tempat duduk para ahli kitab dan orang Farisi waktu mereka menyampaikan ajaran resmi…. Ajaran mereka mengikat seluruh bangsa.
(Alexander Sand, “Kathedra”, Exegetical Dictionary of the New Testament, jilid 2, Grand Rapids, MI: Eerdmans Publising, 1991, 221)
Dari sini terlihat Yesus membedakan “kursi pengajaran” dari kursi-kursi lain yang hanya merupakan kursi kehormatan; untuk kursi kehormatan ini Yesus menggunakan kata yang berbeda, meskipun terkait dengan kata Yunani kathedra (lihat Mat 23:5, protokathedriai).
Di kalangan para penutur Yunani yang lebih luas, kathedra berarti kursi dari mana pada ahli filsafat mengajar murid-murid mereka. Dengan demikian, entah Yahudi atau Yunani, orang yang menduduki kathedra diakui sebagai guru dan pemandu masyarakat.
Dalam menetapkan perjanjian baru, Yesus tidak menghapuskan perjanjian lama atau struktur perjanjiannya. Yesus menerapkan pada diriNya sendiri peran dari para guru dan imam Israel, para nabi dan raja; dan peran itu Ia delegasikan kepada para rasulNya. Meskipun kathedra itu lebih tinggi dari semua kursi kehormatan yang lain, Yesus memberikan kepada kedua belas rasulNya sesuatu yang lebih tinggil lagi.
Yesus berkata, “ Aku berkata kepadamu: Sungguh, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di tahta kemuliaanNya, kamu, yang telah mengikuti Aku, akan duduk di atas dua belas tahta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Mat 19:28). Kepada mereka, Yesus menjanjikan tahta (thronoi), yakni kursi pengadilan yang cocok untuk para raja.
Para rasul akan menduduki tahta-tahta yang tinggi ini, tetapi mereka menyebut kedudukan mereka dengan menggunakan kata yang lebih mengungkapkan jabatan, yaitu episkope, yang dalam terjemahan Inggris kuno diterjemahkan menjadi “bishopric” (=keusukupan), meskipun secara harafiah kata itu berarti “jabatan” (Kis1:20). Secara sederhana, pemegang jabatan itu disebut “pejabat” atau “penilik” – episkopos (Yunani). Dari sini kita memperoleh kata Inggris “episcopacy” (=keuskupan).
Para pengemban jabatan ini, misalnya Timotius (1Tim 3:1), menerima jabatan atau pengangkatan mereka dari tangan para rasul sendiri. Kemudian, masing-masing di kotanya, mereka akan menduduki kathedra yang lebih tinggi daripada Kursi Musa. Seperti dikatakan oleh St. Ignatius, mereka akan “memimpin jemaat dengan duduk di tempat Allah”.
Part II
Penggalian-penggalian arkeologis telah menemukan banyak gereja-gereja milik jemaat Kristiani awal berdampingan dengan sinagoga-sinagoga Yahudi.
(Penggalian di Dura Europos, lihat Jack Finergan - Light from the Ancient Past, Princeton, N.J: Princeton University,1946—403.
Dalam desain dan dekorasi, keduanya mirip satu sama lain. Jemaat Kristen awal mempertahankan kathedra sebagai suatu perabot permanen dalam tempat-tempat ibadah mereka.
(Kemiripan rumah ibadah Kristiani dan Yahudi, lihat Rodney Stark, The Rise of Christianity – San Francisco: HarperCollins,1997—68-69)
Kursi ini diduduki oleh uskup; tahta ini mengungkapkan wewenangnya untuk mengajar, memimpin dan menguduskan. Sepanjang masa para Bapa Gereja—dan malah di seluruh dunia Kristiani—Uskup berkotbah tidak dari mimbar, tetapi dari kathedra-nya; di sana, selama berkotbah, ia tetap duduk. Dalam bahasa Latin ditulis cathedra dan tetap dipertahankan untuk mengungkapkan jabatan uskup dan wewenangnya dan (tentu saja) untuk menyebut gerejanya, yakni katedral, gereja dimana biasanya ia menyampaikan ajaran, kotbah dan berkat liturgis.
(Mengenai kursi kehormatan dalam kedua rumah ibadat: sinagoga dan gereja, lihat Steven J. Schloeder, Architecture in Communion – San Francisco: Ignatius, 1998—86. Lihat juga Louis Bouyer, Liturgy and Architecture – Notre Dame: Notre Dame University Press,1967—25-26, 32-34, 43-45.
Pemahaman Gereja mengenai tugas Uskup sudah mantap sejak masa yang sangat awal. Masa hidup St. Ignatius sebagian bersamaan dengan masa hidup para rasul. Ia adalah pengganti St. Petrus, yang kedua atau yang ketiga sebagai Uskup Anthiokia dan tradisi meyakini bahwa ia adalah muris St. Yohanes Rasul. Karena memiliki hubungan yang begitu dekat dengan para rasul, St. Ignatius merasa wajib menjaga dan membela keluhuran tugas rasuli yang ia emban.
"Hendaknya kita memandang uskup seperti kita memandang Tuhan sendiri” – St. Ignatius, Surat kepada jemaat di Efesus, no. 6
Kalau Uskup berdiri di tempat Tuhan, maka orang-orang Kristiani hendaknya berdiri bersama dia, “karena semua yang menjadi milik Allah dan milik Yesus Kristus juga menjadi milik uskup” – St. Ignatius, Surat kepada jemaat di Filadelfia, no. 3
Di dalam gereja uskup, jemaat berdiri di dekat dia, biasanya di depan kathedra-nya. Pada masa St. Ignatius, uskuplah pelayan yang lazim untuk sakramen-sakramen. Di lingkungan Gereja Anthiokia, para imam (=presbyteroi, Yun; priest, Ing) dan para diakon (=diakonoi, Yun; deacon, Ing) mengemban peran yang menonjol seperti dalam Gereja Perjanjian Baru pada zaman para rasul. Tetapi, kalau para imam dan para diakon itu memimpin perayaan sakramen, mereka selalu bertindak sebagai delegatus/utusan uskup.
“ Dalam kaitan dengan Gereja, janganlah seorangpun melakukan sesuatu tanpa uskup. Suatu perayaan Ekaristi hanya dianggap sah kalau dipimpin oleh uskup atau oleh orang yang diserahi tugas itu oleh uskup. Dimanapun uskup tampil, disana hendaknya berhimpun jemaat – sama seperti dimana Yesus Kristus hadir, disitu hadir juga Gereja Katholik. Tanpa persetujuan uskup, tidaklah sah menyelenggarakan pembaptisan atau agape. Sebaliknya, apapun yang disahkan oleh uskup berkenan pada Allah. “
St. Ignatius, Surat kepada jemaat di Smyrna, no. 8
Sudah menjadi kebiasaan bagi uskup untuk merayakan liturgi Gereja setempat dibantu oleh semua klerusnya, dan dikelilingi oleh jemaat kaum beriman yang sudah dibaptis di kota itu. Perayaan seperti ini, oleh Ignatius disebut “harmoni ilahi.”, sebab di istu tertata rapi ketiga jenjang klerus:
1. “Uskupmu duduk di tahta Allah,
2. dan para imammu duduk di kursi dewan para rasul,
3. didampingi oleh para diakonmu”
Perayaan ini merupakan peristiwa “ilahi”, sebab ia mencerminkan apa yang terjadi di surga. Sudah lama para komentator mencatat kemiripan antara liturgi yang dilukiskan oleh St. Iganatius dan pemandangan yang dilukiskan oleh St. Yohanes Rasul dalam kitab Wahyu. Dalam penglihatan St. Yohanes Rasul, ia menyaksikan dua puluh empat tua-tua (=presbyteroi, priest, imam) berdiri dalam barisan setengah lingkaran mengelilingi tahta Allah, dan bersama mereka bergabung juga banyak makhluk saleh yang melambungkan pujian, “ Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah segala Kuasa”
(Why 4: bk. Dom Gregory Dix, The Shape of the Liturgy—New York: Seabury,1982—28f. Lihat juga Didascalia Apostolorum: “Dan untuk para imam hendaknya disediakan tempat khusus di sisi timur rumah ibadat, dan di tengah mereka hendaknya ditempatkan kursi uskup”. Didascalia Apostolorum dalam bahasa Syria, edisi dan terjemahan A. Voobus—Louvain: CSCO,1979—no. 130-131. Lihat juga Scott Hahn, The Lamb’s Supper—New York: Doubleday,1999. Terjemahan Indonesia: Perjamuan Anak Domba, Malang: Dioma, 2007)
Jadi, sebagaimana Allah memimpin liturgi di surga, dikelilingi oleh para rasul dan para kudusNya, demikian pula uskup memimpini di bumi dengan duduk “di tahta Allah”, dikelilingi oleh para klerus dan jemaatnya.
Bagi St. Ignatius dan St. Yohanes, tidak ada dua liturgi tapi hanya ada satu liturgi. Ini merupakan ajaran penting yang membedakan kekristenan awal dari Yudaisme zaman Bait Allah kedua dan agama Israel awal. Umat Israel kuno memandang liturgi mereka yang di bumi sebagai tiruan liturgi surgawi yang diilhamkan oleh Allah.
Baik Musa maupun Salomo membangun tempat kediaman Allah di bumi—kemah suci dan Bait Allah—seturut pola dasar surgawi yang diwahyukan oleh Allah sendiri (Kel 25:8-9, 1Taw 28:19, Keb9:8). Keyakinan ini diungkapkan oleh para nabi secara mistik, ketika mereka melukiskan bagaimana para malaikat beribadat di tengah nyanyian dan pujian yang terdengar jelas datang dari Bait Allah di Yerusalem (Yes 6:1-7). Madah yang dilambungkan oleh para malaikat adalah nyanyian yang sama yang dilagukan oleh para Lewi di depan ruang mahakudus di bumi. Apa yang dilakukan oleh para imam di ruang mahakudus Bait Allah di bumi adalah tiruan atas apa yang dilakukan oleh para malaikat di surga.
Tetapi, ibadat di bumi itu hanyalah bayangan dari ibadat para malaikat—dan hanyalah bayangan dari ibadat yagn akan disahkan pada zaman Mesias.
Dengan menggunakan tubuh insani, Putra Allah yang kekal telah membawa surga turun ke bumi. Umat Allah tidak lagi beribadat dengan meniru ibadat para malaikat. Dalam liturgi PB, Kristus sendiri yang memimpin liturgi itu, kita tidak hanya meniru para malaikat, tetapi bersama mereka, kita ambil bagian dalam liturgi surgawi.
Inilah yang dilihat St. Ignatius dari kathedra di dalam Gerejanya di Anthiokia dan inilah yang ia lukiskan dalam Surat kepada Jemaat di Magnesia. Dan lebih dari itu, itulah yang dilaksanakan oleh para uskup dewasa ini apabila mereka memimpin dengan duduk “di tahta Allah” dalam liturgi surga dan bumi.
Uskup Agung Wina, Kardinal Christoph Schonborn, menulis: “ Dalam perayaan Ekaristi, surga turun ke bumi, dan Gereja di bumi menengadah, membuka diri kea rah rumah surgawinya”
(Living the Catechism of the Catholic Church, jilid 2: The Sacraments, terjemahan John Saward—San Francisco: Ignatius, 2000—100)
Part III:
Sesudah eksodus dari Mesir (bangsa Israel mengembara di padang gurun), Allah memberikan kepada Musa “contoh kemah suci dan contoh segala perabotnya” (Kel 25:9). Dengan mengikuti contoh itu, Musa memerintahkan pembangunan Kemah Suci, tempat kehadiran Allah di tengah umat pilihanNya, yang dapat dibawa kemana-mana. Berabad kemudian, di Yerusalem, Allah memberikan kepada Daud “rancangan Bait Suci dan ruang-ruangnya, yakni kamar perbendaharaan, kamar-kamar atas dan kamar-kamar dalam serta rancangan untuk tahta kerahiman” (1 Taw28:11). Kepada Raja Salomo, putranya, Allah memberikan wewenang untuk menyebut Bait SuciNya itu dengan dengan “rumah Tuhan” dan “rumah Allah” (1Taw28:20-21).
Orang-orang Kristiani awal melihat Kemah Suci dan Bait Allah itu sebagai “gambaran” biblis yang melukiskan Gereja Kristiani masa depan. Baik Kemah Suci maupun Bait Allah adalah tempat ibadah di bumi yang akan memperoleh penggenapannya dalam ibadat surga dan bumi yang secara terinci kita temukan di dalam buku-buku PB, yakni Surat kepada Orang Ibrani (Ibr 8-10) dan Kitab Wahyu (Why 11:19). Gereja yang sedang beribadat mencakup realitas yang oleh orang-orang Katholik, secara tradisional, disebut Gereja yang Berjuang (Gereja yang dibumi), Gereja yang Jaya (di surga) dan Gereja yang Menderita (di api penyucian).
Apabila orang-orang Kristiani awal berbicara mengenai Gereja, yang mereka maksudkan bukan hanya Gereja Universal yang dilihat secara keseluruhan, tetapi juga Gereja Partikular yakni komunitas setempat bahkan juga setiap bangunan Gereja. Sebab, setiap altar adalah tempat dimana surga turun menyentuh bumi (dalam perayaan Ekaristi).
Sejumlah Gereja Kristiani Timur—yang tetap melestarikan banyak kosa kata Kristiani awal—gereja-gereja masih disebut “Bait Kudus” (istilah ini juga akan ditemukan dalam prasasti-prasasti yang tertulis pada gereja-gereja tua di Roma).
Bagi orang-orang kristiani awal, uskup “memimpin dengan duduk di tahta Allah”, artinya di rumah Allah yang di bumi, di bait kudusNya yang di bumi ini, dalam ibadat, disatukan dengan bait kudus di surga.
Dalam Didascalia Apostolorum (Pengajaran Para Rasul) +/- abad ketiga atau empat, telah mewariskan kepada kita suatu teologi biblis yang mendalam mengenai peran uskup dalam Gereja Allah:
“Sekarang, hai para uskup, kamu adalah imam-imam bagi umatmu; kamu adalah para Lewi yang melayani Kemah Suci Allah, yakni Gereja Katholik yang kudus, yang terus menerus berdiri di hadirat Tuhan Allah. Maka bagi umatmu, kamu adalah imam dan nabi, pangeran, pemimpin dan raja, pengantara antara Allah dan umatNya dan orang-orang yang mengenal Kitab Suci dan ucapan-ucapan Allah; kamu adalah saksi dari kehendak Allah, yang menanggung dosa semua orang dan harus memberikan jawaban kepada semua orang… Sebagaimana kamu telah merengkuh beban semua orang, demikian pula buah-buah yang kamu terima dari seluruh umat akan menjadi milikmu, untuk memenuhi segala sesuatu yang kamu butuhkan. Rawatlah baik-baik mereka berkekurangan, seolah-olah kamu harus memberikan pertanggungjawaban kepada Dia yang akan menuntutnya; Dia tidak mungkin melakukan kesalahan dan tidak dapat dihindarkan. Karena, sebagaimana kamu melayani keuskupan, demikianlah – dari pelayanan kepada keuskupan ini – kamu berhak memperoleh perawatan, seperti para imam, para Lewi dan para pelayan yang melayani di hadapan Allah, sebagaimana tertulis dalam Kitab Bilangan” – DA no. 8
Para Uskup harus membimbing, memperlengkapi, mengajar, merawat, menjadi perantara, menerima penghormatan serta penghargaan dan mengemban tanggung jawab untuk jemaat mereka. Singkatnya, mereka harus memainkan peran sebagai seorang ayah dalam suatu keluarga.
Gagasan ini berakar kuat dalam PL. Pada masa para Bapa Bangsa (Nuh, Abraham, Yakub) tidak ada kelas kelompok imami. Dalam setiap keluarga seorang ayah berperan sebagai imam, pemimpin doa dank urban, guru dan pengantara. Tatanan keluarga kudus ini masih tetap bertahan selama masa perbudakan di Mesir dan pengembaraan di padang gurun. Para bapa Israel baru kehilangan hak khusus ini ketika mereka jatuh dalam dosa yang keji karena menyembah anak lembu emas. Waktu itu hanya suku Lewi yang tetap setia kepada Allah dan karena itu hanya merekalah yang tetap mempertahankan martabat imamat. Tetapi, sesudah itupun, fungsi imamat tetap menjadi bagian dari fungsi seorang bapa keluarga.
Dalam kitab Hakim-hakim, kita temuka bahwa ketika seorang Lewi tampak berdiri di muka pintu Mikha, ia memohon “tinggallah padaku dan jadilah bapa serta imam bagiku” (Hak17:10). Satu bab kemudian, hampir kata demi kata, permohonan Mikha digemakan oleh salah seorang dari suku Dan, “ikutlah kami dan jadilah bapa serta imam kami.” (Hak18:19). Panggilan itu terus bergema dalam hati orang-orang Kristiani awal.
Dengan duduk di tahta Allah, seorang uskup tidak bisa tidak adalah seorang bapa, sebab jati diri Allah adalah “Bapa” dan yang dikerjakan Allah adalah pekerjaan seorang Bapa. St. Ignatius tahu akan hal ini, oleh karena itu ia berani membandingkan dirinya sendiri dengan Allah, Bapa. Rasul Paulus telah melakukan hal yang lebih kurang sama, “Itulah sebabnya aku Sujud kepada Bapa, yang dari padaNya semua martabat bapawi yang di surga dan di bumi menerima namanya” (Ef 3:14-15)
Kata Yunani yang kadang-kadang diterjemahkan “kebapaan” dan kadang-kadang diterjemahkan “keluarga” adalah patria, dalam bahasa Latin paternitas; dari sini kita memperoleh kata Inggris paternity (=kebapaan).
Part IV:
Dalam menelaah surat-surat St. Ignatius, pakar liturgi Inggris Gregory Dix menulis: “Kalau uskup memiliki fungsi perwakilan yang khas maka ia harus menjadi seperti ‘bapa dalam keluarga’ Allah… Ini dapat ditemukan dalam frasa ‘bapa di dalam Allah’ yang masih tetap bertahan: artinya, uskup duduk di tahta sebagai ‘gambar Allah’ dan ‘citra Bapa’.
(Gregory Dix, The Shape of the Liturgy,30)
Dalam Gereja awal, uskup mengamalkan peran mengajarnya sambil duduk pada kathedra-nya (pada tahtanya), tetapi ia mengamalkan peran imaminya sambil berdiri pada altar. Kedua peran ini adalah peran bapawi, dan liturgi sendiri yang memuncak dalam tindakan bapawi ilahi yang tertinggi, yang digenapi oleh uskup.
Rubik tertua untuk komuni kudus yang diambil dari Tradition Apostolica (Tradisi Rasuli) St. Hippolytus (215) berbunyi: Apabila uskup memecahkan roti, waktu membagikan satu potongan kepada setiap orang, hendaknya ia berkata “Roti Surga dalam Kristus Yesus”
(St. Hippolytus, Traditio Apostolica, no. 23.5)
Kegiatannya membagikan komuni adalah suatu gambaran dari tindakan Bapa mengutus Sang Putra, seperti dikatakan Yesus kepada jemaat yang berhimpun di sinagoga di Kapernaum, “BapaKu yang memberikan kepadamu roti yang benar dari Surga” (Yoh 6:32)
Dan apakah artinya cathedra? Apakah artinya tahta uskup yang mengungkapkan jabatannya? Dix menjawab, “ Sungguh, seperti diungkapkan oleh Kitab Wahyu – tahta uskup itu adalah tahta Allah dan tahta Anak Domba” (Why 22:3)
Disini, duduk di cathedra berarti “duduk di tahta Allah” dan dari situlah uskup memimpin-dari tahta Allah, sebagai gambaran khas dari Allah. Dalam liturg di katedral-baik pada masa ini maupun jaman para rasul- surga turun ke bumi. Ini adalah suatu kenyataan yang memesona.
Kita menemukan ungkapan ini dimaklumkan oleh Gereja dalam surat-surat perpisahan St. Ignatius dari Anthiokia sebagaimana dikutip dalam Katekismus Gereja Katholik (KGK) 1993:
“Liturgi adalah karya paripurna Kristus, Kepala dan Tubuh. Secara terus-menerus, Imam Agung kita merayakannya dalam liturgi surgawi bersama dengan Bunda Allah yang kudus, para rasul, semua orang kudus dan semua manusia yang telah masuk ke dalam Kerajaan Surga” – KGK #1187
“Bahkan mereka yang kini merayakan liturgi tanpa tanda-tanda sudah berada di dalam liturgi surgawi; di sana perayaan sungguh-sungguh merupakan persekutuan dan pesta.” – KGK #1136)
*FIK
Ulasan yang sangat baik, sekedar tambahan bahwa suksesi Apostolik mempunyai dasar biblis yaitu St Matias.
Keperawanan Maria
Pernah terbersit dalam benak saya 'kenapa Keperawanan maria yang sudah terjadi berabad2 yang lalu masih bisa di ubah2, sekarang menjadi tidak perawan padahal sampai abad ke 16 masih perawan'..? begitu pula dengan keberatan2 yang lain dapat di rubah sesuai keinginan si penafsir Alkitab..
Keberatan akan keperawanan abadi bunda maria mulai dipertentangkan pada saat itu (Helvidus), dan muncul lagi pada abad ke-16 seiring bergejolaknya gerakan reformasi. Semua keberatan2 yang Helvidus kemukakan sesungguhnya tidak mendasar dan itu sudah dijawab tuntas oleh St. Jerome (i.e. seorang teolog Kitab Suci mumpuni pada jamannya).
seperti apa keberatan yang diulang2 tsb sampai hari ini :
Mat 13:55
Helvidus : mempunyai kesimpulan bahwa maria mempunyai anak selain Yesus, karena dalam ayat Matt 13:55, Mrk 6:3 menyebutkan kata 'Saudara/adelphos'-nya Yesus.
St. Jerome menjelaskan bahwa kata 'Saudara/adelphos'-nya sama sekali tidak dapat membenarkan bahwa maria mempunyai anak selain Yesus, Matt 13:55, dan Markus 6:3 menyebutkan 'Saudara/adelphos'-nya karena keterbatasan tata bahasa 'Ibrani kuno' yang digunakan oleh pada Jaman Yesus yang tidak mengenal kata sepupu hal ini dapat dilihat dari Kej 14:14 dimana tertulis Lot sbg 'Saudara/adelphos' Abraham.
LXX Gen 14:14 ἀκούσας δὲ Αβραμ ὅτι ᾐχμαλώτευται Λωτ ὁ ἀδελφὸς (adelphos) αὐτοῦ ἠρίθμησεν τοὺς ἰδίους οἰκογενεῖς αὐτοῦ τριακοσίους δέκα καὶ ὀκτώ καὶ κατεδίωξεν ὀπίσω αὐτῶν ἕως Δαν
Jadi keberatan Helvidus yang menyatakan karena Matt 13:55 menyebutkan kata 'saudara/adelphos' utk membenarkan maria mempunyai anak selain Yesus adalah tidak mendasar..!
=====
Lukas 2:7 "dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang "sulung", lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan."
Helvidus mempunyai kesimpulan bahwa maria mempunyai anak selain Yesus, karena dalam ayat Luk 2:7 menyebutkan kata 'Sulung'.
St. Jerome menjelaskan bahwa kata 'Sulung' sama sekali tidak dapat membenarkan bahwa Yesus sbg anak tertua sehingga disimpulkan Yesus mempunyai adik2 dari ibu yang sama (i.e. Maria), 'Sulung' adalah anak pembuka rahim sang ibu tidak perduli si anak punya adik atau tidak anak tsb tetaplah anak sulung..
Exodus 13:2 [KJV] Sanctify unto me all the firstborn, whatsoever openeth the womb among the children of Israel, [both] of man and of beast: it [is] mine.
'Sulung' juga dapat diartikan hak istimewa yang melekat pada Yesus sebagai pewaris tahta/hak istimewa Daud dimana Yesus dilahirkan oleh seorang perawan yang didalamnya mengalir darah Daud (i.e. Maria)..
Jadi keberatan Helvidus yang menyatakan karena Lukas 2:7 menyebutkan kata 'Sulung' utk membenarkan Yesus mempunyai adik2 dari rahim yang sama adalah keberatan yang tidak mendasar, karena anak pertama tsb mau punya adik kandung atau tidak dia tetaplah anak pembuka rahim ibu-nya..!
=====
Mat 1:24-25: Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan diasampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.
Helvidus menitikberatkan pada kata "sampai" sehingga disimpulkan bahwa setelah melahirkan maka Yusuf dan Maria melakukan persetubuhan.
alasan yang terkesan memaksa ini dengan mudahnya di patahkan oleh St. Jerome yang menjelaskan bahwa Alkitab menjelaskan kata "sampai" tidak berarti bhw kejadian 'sampai' satu titik tertentu maka setelah itu terjadi kebalikannya..
Jadi keberatan Helvidus akan keperawanan Maria karena Matius 1:25 menyebutkan kata 'Sampai' utk membenarkan bahwa Yusuf melakukan hubungan badan dengan Maria setelah kelahiran Yesus adalah keberatan yang tidak mendasar, karena Alkitab tidak menyatakan bahwa setelah "titik sampai tersebut" maka terjadi kebalikannya..!
*) Note
Matt 1:25 "καὶ οὐκ ἐγίνωσκεν αὐτὴν ἕως οὗ ἔτεκεν υἱόν: καὶ ἐκάλεσεν τὸ ὄνομα αὐτοῦ Ἰησοῦν."
Dalam terjemaan LAI kata ἐγίνωσκεν [ginosko] di terjemahkan sbg 'bersetubuh' padahal dalam terjemahan inggrisnya diterjemahkan sbg 'know,knew' Matt 1:25 "and knew her not till she had brought forth a son, and he called his name Jesus".. yang saya ingin sampaikan adalah sangat sulit mengaitkan bahwa kata dalam tata bahasa Yunani ἐγίνωσκεν [ginosko] di kaitkan sbg hubungan suami istri..!
=======
Masih banyak pengajaran St. Jerome yang meluruskan pandangan Helvidus tetapi karena keterbatasan waktu maka tidak dapat dibahas satu persatu di disini..
ada suatu tanda tanya besar yang harus di renungkan oleh orang2 yang menolak pandangan St. Jerome ttg keperawanan abadi maria, TETAPI di sisi lain mereka setuju dgn St. Jerome yang meragukan deuterokanonika (walaupun pada akhirnya St. Jerome menerima Deuterokanonika)..
Sekedar menambahkan, Ishak pun disebut "TUNGGAL", walaupun ada Ismael, sehingga kata "SULUNG", maupun "TUNGGAL" bukan merupakan patokan karena masalah perbendaharaan kata dan budaya bahasa dari bangsa Yahudi.
*FIK
Keberatan akan keperawanan abadi bunda maria mulai dipertentangkan pada saat itu (Helvidus), dan muncul lagi pada abad ke-16 seiring bergejolaknya gerakan reformasi. Semua keberatan2 yang Helvidus kemukakan sesungguhnya tidak mendasar dan itu sudah dijawab tuntas oleh St. Jerome (i.e. seorang teolog Kitab Suci mumpuni pada jamannya).
seperti apa keberatan yang diulang2 tsb sampai hari ini :
Mat 13:55
Helvidus : mempunyai kesimpulan bahwa maria mempunyai anak selain Yesus, karena dalam ayat Matt 13:55, Mrk 6:3 menyebutkan kata 'Saudara/adelphos'-nya Yesus.
St. Jerome menjelaskan bahwa kata 'Saudara/adelphos'-nya sama sekali tidak dapat membenarkan bahwa maria mempunyai anak selain Yesus, Matt 13:55, dan Markus 6:3 menyebutkan 'Saudara/adelphos'-nya karena keterbatasan tata bahasa 'Ibrani kuno' yang digunakan oleh pada Jaman Yesus yang tidak mengenal kata sepupu hal ini dapat dilihat dari Kej 14:14 dimana tertulis Lot sbg 'Saudara/adelphos' Abraham.
LXX Gen 14:14 ἀκούσας δὲ Αβραμ ὅτι ᾐχμαλώτευται Λωτ ὁ ἀδελφὸς (adelphos) αὐτοῦ ἠρίθμησεν τοὺς ἰδίους οἰκογενεῖς αὐτοῦ τριακοσίους δέκα καὶ ὀκτώ καὶ κατεδίωξεν ὀπίσω αὐτῶν ἕως Δαν
Jadi keberatan Helvidus yang menyatakan karena Matt 13:55 menyebutkan kata 'saudara/adelphos' utk membenarkan maria mempunyai anak selain Yesus adalah tidak mendasar..!
=====
Lukas 2:7 "dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang "sulung", lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan."
Helvidus mempunyai kesimpulan bahwa maria mempunyai anak selain Yesus, karena dalam ayat Luk 2:7 menyebutkan kata 'Sulung'.
St. Jerome menjelaskan bahwa kata 'Sulung' sama sekali tidak dapat membenarkan bahwa Yesus sbg anak tertua sehingga disimpulkan Yesus mempunyai adik2 dari ibu yang sama (i.e. Maria), 'Sulung' adalah anak pembuka rahim sang ibu tidak perduli si anak punya adik atau tidak anak tsb tetaplah anak sulung..
Exodus 13:2 [KJV] Sanctify unto me all the firstborn, whatsoever openeth the womb among the children of Israel, [both] of man and of beast: it [is] mine.
'Sulung' juga dapat diartikan hak istimewa yang melekat pada Yesus sebagai pewaris tahta/hak istimewa Daud dimana Yesus dilahirkan oleh seorang perawan yang didalamnya mengalir darah Daud (i.e. Maria)..
Jadi keberatan Helvidus yang menyatakan karena Lukas 2:7 menyebutkan kata 'Sulung' utk membenarkan Yesus mempunyai adik2 dari rahim yang sama adalah keberatan yang tidak mendasar, karena anak pertama tsb mau punya adik kandung atau tidak dia tetaplah anak pembuka rahim ibu-nya..!
=====
Mat 1:24-25: Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan diasampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.
Helvidus menitikberatkan pada kata "sampai" sehingga disimpulkan bahwa setelah melahirkan maka Yusuf dan Maria melakukan persetubuhan.
alasan yang terkesan memaksa ini dengan mudahnya di patahkan oleh St. Jerome yang menjelaskan bahwa Alkitab menjelaskan kata "sampai" tidak berarti bhw kejadian 'sampai' satu titik tertentu maka setelah itu terjadi kebalikannya..
- Matius 28:20 " ….Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." => tentu tidak ada seorang kristen pun yang mengatakan bahwa setelah akhir jaman maka Yesus tidak menyertai murid2-Nya..!
- 1 Kor 15:25 "Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya." => tentu tidak ada seorang kristen pun yang mengatakan bahwa setelah Bapa meletakan semua musuh-Nya di bawah kaki Yesus maka Yesus tidak lagi menjadi Raja..!
Jadi keberatan Helvidus akan keperawanan Maria karena Matius 1:25 menyebutkan kata 'Sampai' utk membenarkan bahwa Yusuf melakukan hubungan badan dengan Maria setelah kelahiran Yesus adalah keberatan yang tidak mendasar, karena Alkitab tidak menyatakan bahwa setelah "titik sampai tersebut" maka terjadi kebalikannya..!
*) Note
Matt 1:25 "καὶ οὐκ ἐγίνωσκεν αὐτὴν ἕως οὗ ἔτεκεν υἱόν: καὶ ἐκάλεσεν τὸ ὄνομα αὐτοῦ Ἰησοῦν."
Dalam terjemaan LAI kata ἐγίνωσκεν [ginosko] di terjemahkan sbg 'bersetubuh' padahal dalam terjemahan inggrisnya diterjemahkan sbg 'know,knew' Matt 1:25 "and knew her not till she had brought forth a son, and he called his name Jesus".. yang saya ingin sampaikan adalah sangat sulit mengaitkan bahwa kata dalam tata bahasa Yunani ἐγίνωσκεν [ginosko] di kaitkan sbg hubungan suami istri..!
=======
Masih banyak pengajaran St. Jerome yang meluruskan pandangan Helvidus tetapi karena keterbatasan waktu maka tidak dapat dibahas satu persatu di disini..
ada suatu tanda tanya besar yang harus di renungkan oleh orang2 yang menolak pandangan St. Jerome ttg keperawanan abadi maria, TETAPI di sisi lain mereka setuju dgn St. Jerome yang meragukan deuterokanonika (walaupun pada akhirnya St. Jerome menerima Deuterokanonika)..
Sekedar menambahkan, Ishak pun disebut "TUNGGAL", walaupun ada Ismael, sehingga kata "SULUNG", maupun "TUNGGAL" bukan merupakan patokan karena masalah perbendaharaan kata dan budaya bahasa dari bangsa Yahudi.
*FIK
Kamis, 21 Juni 2012
Filioque
PADA AWALNYA:
ORTHODOX:
ANAK
ROMA:
ANAK
HASIL KONSILI OIKUMENE:
HAL INI SUDAH DIAMINI DAN TIDAK ADA LAGI MASALAH ANTARA ORTHODOX
DAN ROMA.
* Ignas wrote:
dulu kalau tidak salah pernah dibahas di fesbuk, dan iman GK sama dengan iman GO..
bahwa :
Bapa --> Anak --> Roh Kudus
========
kadang umat katolik sendiri juga salah dalam memahami ini,
ini adalah pemahaman yang salah:
Bapa
\
\
Roh Kudus
/
/
Anak
aku setuju sama bro Yopi..
bahwa :
Bapa --> Anak --> Roh Kudus
========
kadang umat katolik sendiri juga salah dalam memahami ini,
ini adalah pemahaman yang salah:
Bapa
\
\
Roh Kudus
/
/
Anak
aku setuju sama bro Yopi..
* Jenova wrote:
AFAIK, justru salah kalo seorang katolik memahami prosesi Roh Kudus adalah: Bapa --> Anak ---> Roh Kudus.
Hal ini sudah ditegaskan dalam Second Council of Lyon, 1274:
"We confess that the Holy Ghost proceeds eternally from the Father and the Son, not as from two principles, but as from one principle, not by two spirations, but by one single spiration"
Kalo mau digambarkan dalam diagram, IMHO lebih tepat kalo iman GK akan prosesi Roh Kudus adalah demikian:
------------
| Bapa |
| | ---> Roh Kudus
| Anak |
------------
Hal ini sudah ditegaskan dalam Second Council of Lyon, 1274:
"We confess that the Holy Ghost proceeds eternally from the Father and the Son, not as from two principles, but as from one principle, not by two spirations, but by one single spiration"
Kalo mau digambarkan dalam diagram, IMHO lebih tepat kalo iman GK akan prosesi Roh Kudus adalah demikian:
------------
| Bapa |
| | ---> Roh Kudus
| Anak |
------------
* St Yopi:
Tertullian
"I believe that the Spirit proceeds not otherwise than from the Father through the Son" (Against Praxeas 4:1 [ca. A.D. 220])
Origen
“We believe, however, that there are three persons: the Father and the Son and the Holy Spirit; and we believe none to be unbegotten except the Father. We admit, as more pious and true, that all things were produced through the Word, and that the Holy Spirit is the most excellent and the first in order of all that was produced by the Father through Christ" (Commentaries on John 2:6 [ca. A.D. 277])
Hilary
"Concerning the Holy Spirit ... it is not necessary to speak of him who must be acknowledged, who is from the Father and the Son, his sources" (Trinity 2:29 [A.D. 359])
Ephipanus
"The Father always existed and the Son always existed, and the Spirit breathes from the Father and the Son" (The Man Well-Anchored 75 [A.D. 374])
Augustine
"If that which is given has for its principle the one by whom it is given, because it did not receive from anywhere else that whcih proceeds from the giver, then it must be confessed that the Father and the Son are the principle of the Holy Spirit, not two principles, but just a the Father and the Son are one God ... relative to the Holy Spirit they are one principle" (The Trinity 5:14:15 [ca. A.D. 405])
Cyril of Alexandria
"Since the Holy Spirit when he is in us effects our being conformed to God, and he actually proceeds from the Father and the Son, it is abundantly clear that he is of the divine essence, in it in essence and proceeding from it" (Treasury of the Holy Trinity, thesis 34 [ca. A.D. 424])
Fulgence
"Hold most firmly and never doubt in the least that the only God the Son, who is one person of the Trinity, is the Son of the only God the Father; but the Holy Spirit himself also one person of the Trinity, is spirit of not the Father only, but of Father and of Son together" (The Rule of Faith 53 [A.D. 524])
St. Athanasius dari Alexandria
"For as the Son, who is in the Father and the Father in him, is not a creature but pertains to the essence of the Father (for this you also profess to say); so also it is not lawful to rank with the creatures the Spirit who is in the Son, and the Son in him"
Athanasius,To Serapion,I:21(A.D. 360),in SHA,119
"For He, as as been said, gives to the Spirit, and whatever the Spirit hath, He hath from the Word."
Athanasius,Against the Arians,III:24(A.D. 362),in NPNF2,IV:407
St. Basilius
"Even if the Holy Spirit is third in diginity and order, why need he be third also in nature? For that he is second to the Son, having his being from him and receiving from him and announcing to us and being completely dependent on him, pious tradition recounts; but that his nature is third we are not taught by the Saints nor can we conclude logically from what has been said."
Basil, Against Eunomius,3, PG 29:653B(A.D. 365),in HS,44
"[A]lthough the Holy Spirit is behind the Son in dignity, yet not in nature. We have received that he is numbered third from the Father, the Lord saying in the tradition of baptism....But that he is thrust out to some third nature we have neither learnt nor ever heard."
Basil,Homilies,Against Eunomius,PG 29:657D-660A(A.D. 365),in GIL,204-205
"One, moreover, is the Holy Spirit, and we speak of Him singly, conjoined as He is to the one Father through the one Son, and through Himself completing the adorable and blessed Trinity."
Basil,On the Holy Spirit,18:45(A.D. 375),in NPNF2,VIII:28
"One, moreover,is the Holy Spirit and we speak of Him singly, conjoined as He is through Himself completing the adorable and blessed Trinity."
Basil,On the Holy Spirit,18:45(A.D. 375),in NPNF2,VIII:28
"Thus the way of the knowledge of God lies from One Spirit through the One Son to the One Father, and conversely the natural Goodness and the inherent Holiness and the royal Dignity extend from the Father through the Only-begotten to the Spirit. Thus there is both acknowledgment of the hypostases and the true dogma of the Monarchy is not lost."
Basil,On the Holy Spirit,18:47(A.D. 375),in NPNF2,VIII:28
"One Father, one Son, one Holy Spirit must be confessed according to the divine tradition. Not two Fathers, nor two Sons, since the Spirit neither is the Son nor is called. For we do NOT receive anything from the Spirit in the SAME way as the Spirit from the Son; but we receive him (ie. the Spirit) coming to us and sanctifying us, the communication of divinity, the pledge of eternal inheritance, and the first fruits of the eternal good."
Basil,Homilies,PG 31:1433(ante A.D. 379),in GIL,204
St. Gregorius Nazianze
If ever there was a time when the Father was not, then there was a time when the Son was not. If ever there was a time when the Son was not, then there was a time when the Spirit was not."
Gregory of Nazianen,5th Oration(31),3(A.D. 380),in NPNF2,VII:318
"I have very carefully considered this matter in my own mind...but I have been unable to discover any thing on earth with which to compare the nature of the Godhead...I picture to myself an eye, a fountain, a river, as others have done before, to see if the first might be analogous to the Father, the second to the Son, and the third to the Holy Ghost....Again I thought of the sun and a ray and light. But here again there was a fear lest people should get an idea of composition in the Uncompounded Nature, such as there is in the Sun and the things that are in the Sun. And in the second place lest we should give Essence to the Father but deny Personality to the Others, and make Them only Powers of God, existing in Him and not Personal."
Gregory of Nazianen,5th Oration(31),31,32(A.D. 380),in NPNF2,VII:328
"I believe that the Spirit proceeds not otherwise than from the Father through the Son" (Against Praxeas 4:1 [ca. A.D. 220])
Origen
“We believe, however, that there are three persons: the Father and the Son and the Holy Spirit; and we believe none to be unbegotten except the Father. We admit, as more pious and true, that all things were produced through the Word, and that the Holy Spirit is the most excellent and the first in order of all that was produced by the Father through Christ" (Commentaries on John 2:6 [ca. A.D. 277])
Hilary
"Concerning the Holy Spirit ... it is not necessary to speak of him who must be acknowledged, who is from the Father and the Son, his sources" (Trinity 2:29 [A.D. 359])
Ephipanus
"The Father always existed and the Son always existed, and the Spirit breathes from the Father and the Son" (The Man Well-Anchored 75 [A.D. 374])
Augustine
"If that which is given has for its principle the one by whom it is given, because it did not receive from anywhere else that whcih proceeds from the giver, then it must be confessed that the Father and the Son are the principle of the Holy Spirit, not two principles, but just a the Father and the Son are one God ... relative to the Holy Spirit they are one principle" (The Trinity 5:14:15 [ca. A.D. 405])
Cyril of Alexandria
"Since the Holy Spirit when he is in us effects our being conformed to God, and he actually proceeds from the Father and the Son, it is abundantly clear that he is of the divine essence, in it in essence and proceeding from it" (Treasury of the Holy Trinity, thesis 34 [ca. A.D. 424])
Fulgence
"Hold most firmly and never doubt in the least that the only God the Son, who is one person of the Trinity, is the Son of the only God the Father; but the Holy Spirit himself also one person of the Trinity, is spirit of not the Father only, but of Father and of Son together" (The Rule of Faith 53 [A.D. 524])
St. Athanasius dari Alexandria
"For as the Son, who is in the Father and the Father in him, is not a creature but pertains to the essence of the Father (for this you also profess to say); so also it is not lawful to rank with the creatures the Spirit who is in the Son, and the Son in him"
Athanasius,To Serapion,I:21(A.D. 360),in SHA,119
"For He, as as been said, gives to the Spirit, and whatever the Spirit hath, He hath from the Word."
Athanasius,Against the Arians,III:24(A.D. 362),in NPNF2,IV:407
St. Basilius
"Even if the Holy Spirit is third in diginity and order, why need he be third also in nature? For that he is second to the Son, having his being from him and receiving from him and announcing to us and being completely dependent on him, pious tradition recounts; but that his nature is third we are not taught by the Saints nor can we conclude logically from what has been said."
Basil, Against Eunomius,3, PG 29:653B(A.D. 365),in HS,44
"[A]lthough the Holy Spirit is behind the Son in dignity, yet not in nature. We have received that he is numbered third from the Father, the Lord saying in the tradition of baptism....But that he is thrust out to some third nature we have neither learnt nor ever heard."
Basil,Homilies,Against Eunomius,PG 29:657D-660A(A.D. 365),in GIL,204-205
"One, moreover, is the Holy Spirit, and we speak of Him singly, conjoined as He is to the one Father through the one Son, and through Himself completing the adorable and blessed Trinity."
Basil,On the Holy Spirit,18:45(A.D. 375),in NPNF2,VIII:28
"One, moreover,is the Holy Spirit and we speak of Him singly, conjoined as He is through Himself completing the adorable and blessed Trinity."
Basil,On the Holy Spirit,18:45(A.D. 375),in NPNF2,VIII:28
"Thus the way of the knowledge of God lies from One Spirit through the One Son to the One Father, and conversely the natural Goodness and the inherent Holiness and the royal Dignity extend from the Father through the Only-begotten to the Spirit. Thus there is both acknowledgment of the hypostases and the true dogma of the Monarchy is not lost."
Basil,On the Holy Spirit,18:47(A.D. 375),in NPNF2,VIII:28
"One Father, one Son, one Holy Spirit must be confessed according to the divine tradition. Not two Fathers, nor two Sons, since the Spirit neither is the Son nor is called. For we do NOT receive anything from the Spirit in the SAME way as the Spirit from the Son; but we receive him (ie. the Spirit) coming to us and sanctifying us, the communication of divinity, the pledge of eternal inheritance, and the first fruits of the eternal good."
Basil,Homilies,PG 31:1433(ante A.D. 379),in GIL,204
St. Gregorius Nazianze
If ever there was a time when the Father was not, then there was a time when the Son was not. If ever there was a time when the Son was not, then there was a time when the Spirit was not."
Gregory of Nazianen,5th Oration(31),3(A.D. 380),in NPNF2,VII:318
"I have very carefully considered this matter in my own mind...but I have been unable to discover any thing on earth with which to compare the nature of the Godhead...I picture to myself an eye, a fountain, a river, as others have done before, to see if the first might be analogous to the Father, the second to the Son, and the third to the Holy Ghost....Again I thought of the sun and a ray and light. But here again there was a fear lest people should get an idea of composition in the Uncompounded Nature, such as there is in the Sun and the things that are in the Sun. And in the second place lest we should give Essence to the Father but deny Personality to the Others, and make Them only Powers of God, existing in Him and not Personal."
Gregory of Nazianen,5th Oration(31),31,32(A.D. 380),in NPNF2,VII:328
St. Didymus si Buta
"Our Lord teaches that the being of the Spirit is derived not from the Spirit Himself, but from the Father and the Son; He goes forth from the Son, proceeding from the Truth; He has no subsistence but that which is given Him by the Son."
Didymus the Blind,The Holy Spirit, 37(ante A.D. 381),in SW,22
"Our Lord teaches that the being of the Spirit is derived not from the Spirit Himself,but from the Father and the Son; He goes forth from the Son, proceeding from the Truth; He has no subsistence but that which is given Him by the Son."
Didymus the Blind of Alexandria,The Holy Spirit,37(ante A.D. 381),in SW,224,225
St. Gregorius Nyssa
"For as the Son is bound to the Father, and, while deriving existence from Him, is not substantially after Him, so again the Holy Spirit is in touch with the Only-begotten, Who is conceived of as before the Spirit's subsistence only in the theoretical light of a cause. Extensions in time find no admittance in the Eternal Life; so that, when we have removed the thought of cause, the Holy Trinity in no single way exhibits discord with itself; and to It is glory due."
Gregory of Nyssa,Against Eunomius,1:42(A.D. 384),in NPNF2,V:100
" If, however, any one cavils at our argument, on the ground that by not admitting the difference of nature it leads to a mixture and confusion of the Persons, we shall make to such a charge this answer;--that while we confess the invariable character of the nature, we do not deny the difference in respect of cause, and that which is caused, by which alone we apprehend that one Person is distinguished from another;-by our belief, that is, that one is the Cause, and another is of the Cause; and again in that which is of the Cause we recognize another distinction. For one is directly from the first Cause, and another by that which is directly from the first Cause; so that the attribute of being Only-begotten abides without doubt in the Son, and the interposition of the Son, while it guards His attribute of being Only-begotten, does not shut out the Spirit from His relation by way of nature to the Father."
Gregory of Nyssa,To Ablabius-There are not three gods(A.D. 375),in NPNF2,V:336
"For the plea will not avail them in their self-defence, that He is delivered by our Lord to His disciples third in order, and that therefore He is estranged from our ideal of Deity. Where in each case activity in working good shows no diminution or variation whatever, how unreasonable it is to suppose the numerical order to be a sign of any diminution or essential variation! It is as if a man were to see a separate flame burning on three torches(and we will suppose that the third flame is caused by that of the first being transmitted to the middle, and then kindling the end torch), and were to maintain that the heat in the first exceeded that of the others; that that next it showed a variation from it in the direction of the less; and that the third could not be called fire at all, though it burnt and shone just like fire, and did everything that fire does. But if there is really no hindrance to the third torch being fire, though it has been kindled from a previous flame, what is the philosophy of these men, who profanely think that they can slight the dignity of the Holy Spirit because He is named by the Divine lips after the Father and the Son?"
Gregory of Nyssa,Against Macedonians,6(A.D. 377),in NPNF2,V:317
"For neither did the Universal God make the universe 'through the Son,' as needing any help, nor does the Only-begotten God work all things 'by the Holy Spirit,' as having a power that comes short of His design; but the fountain of power is the Father, and the power of the Father is the Son, and the spirit of that power is the Holy Spirit"
Gregory of Nyssa,Against Macedonians,13(A.D. 377),in NPNF2,V:320
St. Maximos si Pengaku Iman
"Those of the Queen of the cities(Constantinople) have attacked the synodal letter of the present very holy Pope, not in the case of all chapters that he has written in it, but only in the case of two of them. One relates to the theology (of the Trinity) and, according to them says:'The Holy Spirit also has his ekporeusis(ekporeuesthai) from the Son'. The other deals with the divine incarnation. With regard to the first matter, they(the Romans) have produced the unanimous evidence of the Latin Fathers, and also of Cyril of Alexandria, from the study he made of the gospel of St. John. On the basis of these texts, they have shown that they have not made the Son the cause(aitian) of the Spirit--they know in fact that the Father is the only cause of the Son and the Spirit, the one by begetting and the other by ekporeusis(procession)--but that they have manifested the procession through him (to dia autou proienai) and have thus shown the unity and identity of the essence....They (the Romans) have therefore been accused of precisely those things of which it would be wrong to accuse them, whereas the former (the Byzantines) have been accused of those things of which it has been quite correct to accuse them (Monothelitism). They have up till now produced no defence, although they have not yet rejected the things that they have themselves so wrongly introduced. In accordance with your request, I have asked the Romans to translate what is peculiar to them (the 'also from the Son') in such a way that any obscurities that may result from it will be avoided. But since the practice of writing and sending (the synodal letter) has been observed, I wonder whether they will possibly agree to do this. It is true, of course, that they cannot reproduce their idea in a language and in words that are foreign to them as they can in their mother-tongue, just as we too cannot. In any case, having been accused, they will certainly take some care about this."
Maximus the Confessor,To Marinus(A.D. 655),in HS,III:52-53
"[T]he Holy Spirit (he writes elsewhere), as He is by nature and in the way of essence [the Spirit] of God the Father, so is He also the Son's by nature and in the way of essence, since He proceeds from the Father essentially and ineffably through the Son, who is begotten."
Maximus the Confessor,Quaestiones ad Thalassium, 63(ante A.D. 662),in SW,279-280
"Our Lord teaches that the being of the Spirit is derived not from the Spirit Himself, but from the Father and the Son; He goes forth from the Son, proceeding from the Truth; He has no subsistence but that which is given Him by the Son."
Didymus the Blind,The Holy Spirit, 37(ante A.D. 381),in SW,22
"Our Lord teaches that the being of the Spirit is derived not from the Spirit Himself,but from the Father and the Son; He goes forth from the Son, proceeding from the Truth; He has no subsistence but that which is given Him by the Son."
Didymus the Blind of Alexandria,The Holy Spirit,37(ante A.D. 381),in SW,224,225
St. Gregorius Nyssa
"For as the Son is bound to the Father, and, while deriving existence from Him, is not substantially after Him, so again the Holy Spirit is in touch with the Only-begotten, Who is conceived of as before the Spirit's subsistence only in the theoretical light of a cause. Extensions in time find no admittance in the Eternal Life; so that, when we have removed the thought of cause, the Holy Trinity in no single way exhibits discord with itself; and to It is glory due."
Gregory of Nyssa,Against Eunomius,1:42(A.D. 384),in NPNF2,V:100
" If, however, any one cavils at our argument, on the ground that by not admitting the difference of nature it leads to a mixture and confusion of the Persons, we shall make to such a charge this answer;--that while we confess the invariable character of the nature, we do not deny the difference in respect of cause, and that which is caused, by which alone we apprehend that one Person is distinguished from another;-by our belief, that is, that one is the Cause, and another is of the Cause; and again in that which is of the Cause we recognize another distinction. For one is directly from the first Cause, and another by that which is directly from the first Cause; so that the attribute of being Only-begotten abides without doubt in the Son, and the interposition of the Son, while it guards His attribute of being Only-begotten, does not shut out the Spirit from His relation by way of nature to the Father."
Gregory of Nyssa,To Ablabius-There are not three gods(A.D. 375),in NPNF2,V:336
"For the plea will not avail them in their self-defence, that He is delivered by our Lord to His disciples third in order, and that therefore He is estranged from our ideal of Deity. Where in each case activity in working good shows no diminution or variation whatever, how unreasonable it is to suppose the numerical order to be a sign of any diminution or essential variation! It is as if a man were to see a separate flame burning on three torches(and we will suppose that the third flame is caused by that of the first being transmitted to the middle, and then kindling the end torch), and were to maintain that the heat in the first exceeded that of the others; that that next it showed a variation from it in the direction of the less; and that the third could not be called fire at all, though it burnt and shone just like fire, and did everything that fire does. But if there is really no hindrance to the third torch being fire, though it has been kindled from a previous flame, what is the philosophy of these men, who profanely think that they can slight the dignity of the Holy Spirit because He is named by the Divine lips after the Father and the Son?"
Gregory of Nyssa,Against Macedonians,6(A.D. 377),in NPNF2,V:317
"For neither did the Universal God make the universe 'through the Son,' as needing any help, nor does the Only-begotten God work all things 'by the Holy Spirit,' as having a power that comes short of His design; but the fountain of power is the Father, and the power of the Father is the Son, and the spirit of that power is the Holy Spirit"
Gregory of Nyssa,Against Macedonians,13(A.D. 377),in NPNF2,V:320
St. Maximos si Pengaku Iman
"Those of the Queen of the cities(Constantinople) have attacked the synodal letter of the present very holy Pope, not in the case of all chapters that he has written in it, but only in the case of two of them. One relates to the theology (of the Trinity) and, according to them says:'The Holy Spirit also has his ekporeusis(ekporeuesthai) from the Son'. The other deals with the divine incarnation. With regard to the first matter, they(the Romans) have produced the unanimous evidence of the Latin Fathers, and also of Cyril of Alexandria, from the study he made of the gospel of St. John. On the basis of these texts, they have shown that they have not made the Son the cause(aitian) of the Spirit--they know in fact that the Father is the only cause of the Son and the Spirit, the one by begetting and the other by ekporeusis(procession)--but that they have manifested the procession through him (to dia autou proienai) and have thus shown the unity and identity of the essence....They (the Romans) have therefore been accused of precisely those things of which it would be wrong to accuse them, whereas the former (the Byzantines) have been accused of those things of which it has been quite correct to accuse them (Monothelitism). They have up till now produced no defence, although they have not yet rejected the things that they have themselves so wrongly introduced. In accordance with your request, I have asked the Romans to translate what is peculiar to them (the 'also from the Son') in such a way that any obscurities that may result from it will be avoided. But since the practice of writing and sending (the synodal letter) has been observed, I wonder whether they will possibly agree to do this. It is true, of course, that they cannot reproduce their idea in a language and in words that are foreign to them as they can in their mother-tongue, just as we too cannot. In any case, having been accused, they will certainly take some care about this."
Maximus the Confessor,To Marinus(A.D. 655),in HS,III:52-53
"[T]he Holy Spirit (he writes elsewhere), as He is by nature and in the way of essence [the Spirit] of God the Father, so is He also the Son's by nature and in the way of essence, since He proceeds from the Father essentially and ineffably through the Son, who is begotten."
Maximus the Confessor,Quaestiones ad Thalassium, 63(ante A.D. 662),in SW,279-280
Ketika Gereja Katolik mengatakan bahwa Roh Kudus berasal [procedit] dari Bapa dan Putra yang dimaksud adalah seperti ini:
Bapa ----> Putra ----> Roh Kudus
Dan bukannya:
Bapa
\
\
\
Roh Kudus
/
/
/
Putra
Jadi tulisan Tertullianus tidak bertentangan dengan apa yang diyakini Gereja Katolik.
2. Origen
“We believe, however, that there are three persons: the Father and the Son and the Holy Spirit; and ...we believe none to be unbegotten except the Father. We admit, as more pious and true, that all things were produced through the Word, and that the Holy Spirit is the most excellent and the first in order of all that was produced by the Father through Christ" (Commentaries on John 2:6 [ca. A.D. 277])"
"Kami percaya, bagaimanapun, bahwa ada tiga hakekat: Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan kami percaya tidak akan ada yang dikeluarkan kecuali dari Bapa. Kami mengakui, dengan kesalehan dan kebenaran, bahwa segala sesuatu telah dihasilkan melalui Firman, dan bahwa Roh Kudus adalah yang paling baik dan yang pertama dalam urutan semua yang dikeluarkan oleh Bapa melalui Kristus."
Sekali lagi disebutkan bahwa Roh Kudus hanya dikeluarkan oleh Bapa melalui Perutusan Kristus.
Yang ini tetap tidak menunjukkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa SAJA dan sekaligus tetap tidak bertentangan dengan teologi Trinitas Katolik.
Bapa ----> Putra ----> Roh Kudus
Dan bukannya:
Bapa
\
\
\
Roh Kudus
/
/
/
Putra
Jadi tulisan Tertullianus tidak bertentangan dengan apa yang diyakini Gereja Katolik.
2. Origen
“We believe, however, that there are three persons: the Father and the Son and the Holy Spirit; and ...we believe none to be unbegotten except the Father. We admit, as more pious and true, that all things were produced through the Word, and that the Holy Spirit is the most excellent and the first in order of all that was produced by the Father through Christ" (Commentaries on John 2:6 [ca. A.D. 277])"
"Kami percaya, bagaimanapun, bahwa ada tiga hakekat: Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan kami percaya tidak akan ada yang dikeluarkan kecuali dari Bapa. Kami mengakui, dengan kesalehan dan kebenaran, bahwa segala sesuatu telah dihasilkan melalui Firman, dan bahwa Roh Kudus adalah yang paling baik dan yang pertama dalam urutan semua yang dikeluarkan oleh Bapa melalui Kristus."
Sekali lagi disebutkan bahwa Roh Kudus hanya dikeluarkan oleh Bapa melalui Perutusan Kristus.
Yang ini tetap tidak menunjukkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa SAJA dan sekaligus tetap tidak bertentangan dengan teologi Trinitas Katolik.
Sudah sesuai dengan:
Yoh 15:26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku

Yoh 15:26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku
Paus mempunyai kuasa untuk merubah dekrit konsili ekumenis:
COUNCIL OF FLORENCE
Laetentur Coeli (decree of unions with the Greeks)
We also define that the holy apostolic see and the Roman pontiff holds the primacy over the whole world and the Roman pontiff is the successor of blessed Peter prince of the apostles, and that he is the true vicar of Christ, the head of the whole church and the father and teacher of all Christians, and to him was committed in blessed Peter the full power of tending, ruling and governing the whole church, as is contained also in the acts of ecumenical councils and in the sacred canons.
FIRST COUNCIL OF VATICAN
Pastor Aeternus
8. Since the Roman Pontiff, by the divine right of the apostolic primacy, governs the whole Church, we likewise teach and declare that he is the supreme judge of the faithful [52], and that in all cases which fall under ecclesiastical jurisdiction recourse may be had to his judgment [53]. The sentence of the Apostolic See (than which there is no higher authority) is not subject to revision by anyone, nor may anyone lawfully pass judgment thereupon [54]. And so they stray from the genuine path of truth who maintain that it is lawful to appeal from the judgments of the Roman pontiffs to an ecumenical council as if this were an authority superior to the Roman Pontiff.
KONSILI FLORENCE
Laetentur Coeli (dekrit persekutuan dengan pihak Yunani)
Kami juga mendefinisikan bahwa tahta apostolik kudus dan Paus Roma memegang keutamaan atas seluruh dunia dan [bahwa] Paus Roma adalah penerus dari Petrus terberkati sang pangeran rasul, dan bahwa dia adalah wakil Kristus sejati, kepala dari seluruh Gereja dan bapa dan guru dari semua umat Kristen, dan dalam Petrus yang terberkati kepadanya [ie. Paus Roma] diberikan kuasa penuh untuk menggembalakan, memerintah dan mengatur seluruh Gereja, sebaimana terkandung dalam akta-akta konsili-konsili ekumenis dan kanon-kanon keramat.
KONSILI VATIKAN YANG PERTAMA
Pastor Aeternus
8. Karena Paus Roma, berkat hak ilahi atas keutamaan apostolik, memerintah seluruh Gereja, kami olehnya mengajarkan dan mendeklarasikan bahwa dia adalah hakim utama para umat beriman [52], dan bahwa dalam semua kasus yang berada dalam yurisdiksi gerejawi [umat beirman boleh meminta] keputusannya [53]. Keputusan dari Tahta Apostolik (yang darinya tidak ada otoritas yang lebih tinggi) tidak dapat direvisi oleh siapapun ataupun bisa dihakimi secara sah oleh siapapun [54]. Oleh karena itu mereka telah tersesat dari jalan kebenaran bila mereka meyakini bahwa adalah sah untuk banding dari keputusan-keputusan Paus Roma kepada suatu konsili ekumenis seakan-akan konsili ekumenis ini adalah suatu otoritas yang superior dari Paus Roma.
Lalu juga ada keputusan kuno berikut (lihat tanggalnya):
ST BONIFACE I 418-422
The Primacy and Infallibility of the Roman Pontiff
[From the epistle (13) "Retro maioribus tuis" to Rufus, Bishop of Thessaly, March 11, 422]
(2) . . . To the Synod [of Corinth]. . . . . we have directed such writings that all the brethren may know. . . . . that there must be no withdrawal from our judgment. For it has never been allowed that that be discussed again which has once been decided by the Apostolic See.
(2) . . . Kepada Sinode [di Korintus]. . . . . kami telah mengarahkan suatu tulisan-tulisan sehingga semua saudara menjadi tahu. . . . . bahwa haruslah tidak ada penarikan dari keputusan kami. Karena tidaklah pernah diijinkan untuk mendiskusikan kembali apa yang sudah diputuskan oleh Tahta Apostolik.
Surat yang bernada sangat otoritatif ini ditujukan kepada Uskup-uskup di daerah yang bukan ke-Patriarkh-an Roma [ie. Korintus]. Ini menunjukkan bahwa Paus jaman dahulu sadar akan kuasanya atas seluruh Gereja Katolik. Surat Paus St. Boniface I lebih keras karena dia secara eksplisit mengatakan bahwa apa yang diputuskan oleh Tahta Apostolik (ie. Roma) adalah final dan tidak diijinkan untuk didiskusikan kembali.
COUNCIL OF FLORENCE
Laetentur Coeli (decree of unions with the Greeks)
We also define that the holy apostolic see and the Roman pontiff holds the primacy over the whole world and the Roman pontiff is the successor of blessed Peter prince of the apostles, and that he is the true vicar of Christ, the head of the whole church and the father and teacher of all Christians, and to him was committed in blessed Peter the full power of tending, ruling and governing the whole church, as is contained also in the acts of ecumenical councils and in the sacred canons.
FIRST COUNCIL OF VATICAN
Pastor Aeternus
8. Since the Roman Pontiff, by the divine right of the apostolic primacy, governs the whole Church, we likewise teach and declare that he is the supreme judge of the faithful [52], and that in all cases which fall under ecclesiastical jurisdiction recourse may be had to his judgment [53]. The sentence of the Apostolic See (than which there is no higher authority) is not subject to revision by anyone, nor may anyone lawfully pass judgment thereupon [54]. And so they stray from the genuine path of truth who maintain that it is lawful to appeal from the judgments of the Roman pontiffs to an ecumenical council as if this were an authority superior to the Roman Pontiff.
KONSILI FLORENCE
Laetentur Coeli (dekrit persekutuan dengan pihak Yunani)
Kami juga mendefinisikan bahwa tahta apostolik kudus dan Paus Roma memegang keutamaan atas seluruh dunia dan [bahwa] Paus Roma adalah penerus dari Petrus terberkati sang pangeran rasul, dan bahwa dia adalah wakil Kristus sejati, kepala dari seluruh Gereja dan bapa dan guru dari semua umat Kristen, dan dalam Petrus yang terberkati kepadanya [ie. Paus Roma] diberikan kuasa penuh untuk menggembalakan, memerintah dan mengatur seluruh Gereja, sebaimana terkandung dalam akta-akta konsili-konsili ekumenis dan kanon-kanon keramat.
KONSILI VATIKAN YANG PERTAMA
Pastor Aeternus
8. Karena Paus Roma, berkat hak ilahi atas keutamaan apostolik, memerintah seluruh Gereja, kami olehnya mengajarkan dan mendeklarasikan bahwa dia adalah hakim utama para umat beriman [52], dan bahwa dalam semua kasus yang berada dalam yurisdiksi gerejawi [umat beirman boleh meminta] keputusannya [53]. Keputusan dari Tahta Apostolik (yang darinya tidak ada otoritas yang lebih tinggi) tidak dapat direvisi oleh siapapun ataupun bisa dihakimi secara sah oleh siapapun [54]. Oleh karena itu mereka telah tersesat dari jalan kebenaran bila mereka meyakini bahwa adalah sah untuk banding dari keputusan-keputusan Paus Roma kepada suatu konsili ekumenis seakan-akan konsili ekumenis ini adalah suatu otoritas yang superior dari Paus Roma.
Lalu juga ada keputusan kuno berikut (lihat tanggalnya):
ST BONIFACE I 418-422
The Primacy and Infallibility of the Roman Pontiff
[From the epistle (13) "Retro maioribus tuis" to Rufus, Bishop of Thessaly, March 11, 422]
(2) . . . To the Synod [of Corinth]. . . . . we have directed such writings that all the brethren may know. . . . . that there must be no withdrawal from our judgment. For it has never been allowed that that be discussed again which has once been decided by the Apostolic See.
(2) . . . Kepada Sinode [di Korintus]. . . . . kami telah mengarahkan suatu tulisan-tulisan sehingga semua saudara menjadi tahu. . . . . bahwa haruslah tidak ada penarikan dari keputusan kami. Karena tidaklah pernah diijinkan untuk mendiskusikan kembali apa yang sudah diputuskan oleh Tahta Apostolik.
Surat yang bernada sangat otoritatif ini ditujukan kepada Uskup-uskup di daerah yang bukan ke-Patriarkh-an Roma [ie. Korintus]. Ini menunjukkan bahwa Paus jaman dahulu sadar akan kuasanya atas seluruh Gereja Katolik. Surat Paus St. Boniface I lebih keras karena dia secara eksplisit mengatakan bahwa apa yang diputuskan oleh Tahta Apostolik (ie. Roma) adalah final dan tidak diijinkan untuk didiskusikan kembali.
Mengenai Paus Leo I:
Setelah Tome of Leo dibacakan di Konsili Kalsedon yang dihadiri 630 uskup, semua uskup (kecuali empat orang dari daerah kekaisaran bagian timur) menyerukan: “Ini adalah iman para Bapa Gereja; ini adalah iman para Rasul: oleh karena itu kami percaya; iman yang ortodoks (asli); karena itu terkutuklah (anathema) ia yang tidak percaya. Petrus telah berbicara melalui Leo; oleh karena itu para rasul telah mengajar [demikian].”
Inilah contoh bagaimana Paus Roma BERKUASA dalam hal pengajaran Iman dan Moral!

Setelah Tome of Leo dibacakan di Konsili Kalsedon yang dihadiri 630 uskup, semua uskup (kecuali empat orang dari daerah kekaisaran bagian timur) menyerukan: “Ini adalah iman para Bapa Gereja; ini adalah iman para Rasul: oleh karena itu kami percaya; iman yang ortodoks (asli); karena itu terkutuklah (anathema) ia yang tidak percaya. Petrus telah berbicara melalui Leo; oleh karena itu para rasul telah mengajar [demikian].”
Inilah contoh bagaimana Paus Roma BERKUASA dalam hal pengajaran Iman dan Moral!
Langganan:
Postingan (Atom)