Senin, 31 Maret 2014

Nama Pontius Pilatus dalam Pengakuan Iman Rasuli

PENGAKUAN IMAN RASULI

1. Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Khalik/Pencipta langit dan bumi.
2. Dan kepada Yesus Kristus AnakNya Yang Tunggal, Tuhan Kita.
3. Yang dikandung daripada ROH KUDUS, lahir dari anak dara Maria.
4. Yang menderita sengsara dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan mati dan dikuburkan turun ke dalam kerajaan maut.
5. Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati.
6. Naik ke surga, duduk disebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa.
7. Dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
8. Aku percaya kepada ROH KUDUS.
9. Gereja Katolik yang kudus, persekutuan Orang Kudus,
10. Pengampunan Dosa. 
11. Kebangkitan badan/orang mati/daging
12. dan Hidup Yang Kekal.

Amin.

Credo (rumusan Syahadat Rasuli/Aku Percaya)
Menurut Tradisi Suci,
Petrus-lah yang memberikan kalimat pertama: "Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa"
Yohanes menambahkan: "Khalik langit dan bumi"
Yakobus: "Dan kepada YESUS KRISTUS, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita"
Andreas: "Yang dikandung daripada ROH KUDUS, lahir dari anak dara Maria"
Filipus: "Yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus; disalibkan, mati dan dikuburkan"
Thomas: "Turun ke dalam kerajaan maut; pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati"
Bartolomeus: "Naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa"
Matius: "Dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati".
Beberapa anak kalimat lainnya ditulis oleh Yakobus (anak Alfeus), Simon Zelot, Yudas (Tadeus) dan Matias. Perlu diingat, dokumen-dokumen gereja sebelum abad kelima menyebut tentang Sidang para Rasul/Konsili yang diadakan untuk merumuskan iman rasuli ini, dan para Bapa Gerejalah yang menyusunnya.


Pontius Pilate

In the Gospel of Matthew, Pilate washes his hands to show that he was not responsible for the execution of Jesus and reluctantly sends Him to His death. The Gospel of Mark, depicting Jesus as innocent of plotting against the Roman Empire, portrays Pilate as reluctant to execute Jesus. In the Gospel of Luke, Pilate agrees that Jesus did not conspire against Rome. In the Gospel of John, Pilate states “I find no guilt in Him (Jesus)” and he asks the Jews if Jesus should be released from custody.

Pilate ordered a sign posted above Jesus on the cross stating "Jesus of Nazareth, The King of the Jews" to give public notice of the legal charge against him for his crucifixion. The chief priests protested that the public charge on the sign should read that Jesus claimed to be King of the Jews. Pilate refused to change the posted charge, saying "What I have written, I have written." ("Quod scripsi, scripsi"). This may have been to emphasize Rome's supremacy in crucifying a Jewish king; it is likely, though, that Pilate was offended by the Jewish leaders using him as a catspaw and thus compelling him to sentence Jesus to death contrary to his own will.

Unlike the synoptic gospels, the Gospel of John gives more detail about that dialogue taking place between Jesus and Pilate. In John, Jesus seems to confirm the fact of his kingship, although immediately explaining, that his "kingdom" was "not of this world"; of far greater importance for the followers of Christ is his own definition of the goal of his ministry on earth at the time. According to Jesus, as we find it written in John 18:37, Jesus thus describes his mission: "(I) came into the world...to bear witness to the truth; and all who are on the side of truth listen to my voice", to which Pilate famously replied, "What is truth?" ("Quid est veritas?") (John 18:38⁠).

The end result was the same for Jesus and Pilate, as it was in all the other three Gospels (Matthew, Mark, Luke). In the same chapter of John 18 verse 38 (King James Version, compare with other versions) the conclusion Pilate made from this interrogation was: "I find in him no fault at all".

Eusebius (325), although he mentions an Acta Pilati that had been referred to by Justin and Tertullian shows no acquaintance with this work. Almost surely it is of later origin, and scholars agree in assigning it to the middle of the 4th century. Epiphanius refers to an Acta Pilati similar to this, as early as 376 AD, but there are indications that the current Greek text, the earliest extant form, is a revision of an earlier one.

Eusebius, stated that Pilate suffered misfortune in the reign of Caligula (AD 37–41), was exiled to Gaul and eventually committed suicide there in Vienne. The 10th century historian Agapius of Hierapolis, in his Universal History, says that Pilate committed suicide during the first year of Caligula's reign, in AD 37/38.

Justin the Martyr – The First and Second Apology of Justin Chapter 35-"And that these things did happen, you can ascertain from the Acts of Pontius Pilate."

In the Eastern Orthodox Church, Pilate's wife Claudia Procula is commemorated as a saint, the Ethiopian Orthodox Tewahedo Church recognized Pilate as a saint in the 6th century, based on the account in the Acts of Pilate, as it does his wife, Claudia Procula, whose strange dream of Christ induced her to try to stop his crucifixion.

Pilate:

1. A man who clearly sees how the story of Jesus will affect human history
2. A man who regrets his role in Jesus' death (to greater or lesser extents, depending on the work)


Salam

Bagi saya, sosok Pontius Pilatus bukan tokoh sejarah biasa, sosoknya sangat penting terutama dari sisi PEMBUKTIAN SEJARAH. Bahwa PENYALIBAN YESUS KRISTUS bukan sekedar kepercayaan/ iman agamawi, tetapi sekaligus FAKTA SEJARAH. Nama Pontius Pilatus sangat penting dalam kaitan pengesahannya atas kematian Yesus Kristus.

Nama Pilatus muncul dalam pengakuan iman tersebut sebagai fakta catatan sejarah, sekaligus peringatan tipe orang yang mecuci tangan tanda tak mau bertanggung jawab, sekalipun dia sanggup untuk itu. Di bawah perintahnyalah maka Yesus di salibkan dan mati (lihat S Liberty, 'The Importance of Pontius Pilate in Creed and Gospel', JTS 45, 1944, hlm 38-56).
Nama Pontius Pilatus sangat penting dalam kaitan pengesahannya atas kematian Yesus Kristus. sekaligus peringatan tipe orang yang mecuci tangan tanda tak mau bertanggung jawab, sekalipun dia sanggup untuk itu. setuju
Justru sebaliknya, Pontius Pilatus adalah orang yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tidak berdosa (tidak bersalah) dihadapan semua orang, tercatat didalam Alkitab maupun Tradisi Suci!

Pontius Pilatus menyatakan bahwa Yesus adalah ALLAH PUTERA:
Quote
The end result was the same for Jesus and Pilate, as it was in all the other three Gospels (Matthew, Mark, Luke). In the same chapter of John 18 verse 38 (King James Version, compare with other versions) the conclusion Pilate made from this interrogation was: "I find in him no fault at all". In the Act of Peter, Pilate said: "I am pure from the blood of the Son of God"

The Act of Pilate purports to be a report by Pontius Pilate containing evidence of Jesus Christ's messiahship and godhead.
Dan para Bapa Gereja Awal memberikan kesaksian mengenai hal itu!
Quote
Eusebius (325), although he mentions an Acta Pilati that had been referred to by Justin and Tertullian shows no acquaintance with this work. Almost surely it is of later origin, and scholars agree in assigning it to the middle of the 4th century. Epiphanius refers to an Acta Pilati similar to this, as early as 376 AD, but there are indications that the current Greek text, the earliest extant form, is a revision of an earlier one.

Justin the Martyr – The First and Second Apology of Justin Chapter 35-"And that these things did happen, you can ascertain from the Acts of Pontius Pilate."
Gereja-Gereja Katolik Orthodox dengan lantang penuh iman menyatakan Pontius Pilatus adalah seorang Santo (Orang Kudus)!
Quote
In the Eastern Orthodox Church, Pilate's wife Claudia Procula is commemorated as a saint, the Ethiopian Orthodox Tewahedo Church recognized Pilate as a saint in the 6th century, based on the account in the Acts of Pilate, as it does his wife, Claudia Procula, whose strange dream of Christ induced her to try to stop his crucifixion.

 Tidak ada didalam Alkitab?

Tidak juga, pernyataan Pilatus didepan orang banyak dan dia menghormati Tubuh Kristus:

Yoh 18:38 Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?" Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.

Pilatus mengetahui kebenaran, dan menyatakannya kepada orang banyak!

Yoh 19:4 Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu,supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya."

Pilatus tetap membela dan menyatakan Yesus tidak berdosa.

Yoh 19:5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!"

Pilatus: "Ecce Homo"!

Yoh 19:6 Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya."
Luk 23:4 Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini."

Pilatus tetap menyatakan Yesus tidak berdosa!

Yoh 19:11-12 Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar."
Luk 23:20 Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin melepaskan Yesus.

Pilatus berusaha membebaskan Yesus bahkan sampai marah!

Yoh 19:15 Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!"

Tidak hanya menyatakan Yesus tidak berdosa, berkali-kali Pilatus membela Yesus dan menyatakan Yesus adalah Raja.

Yoh 19:21-22 Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi." Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis."

Pilatus menolak menyangkal Yesus adalah Raja dan tidak berdosa!

Mat 27:17,19, 22 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?" Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam." Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!"

Pilatus menyebut Yesus adalah Kristus berkali-kali, ini selaras dengan Tradisi Suci yang ada, dan keduanya, pilatus dan istrinya Claudia, menyatakan bahwa Yesus adalah Orang Benar.

Mat 27:24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!"

Pilatus tahu bahwa Yesus adalah Orang Benar, tidak berdosa, dan berkali-kali berusaha membebaskan Yesus!

Mat 27:25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"

Inilah yang menyebabkan Pilatus mencuci tangan, "menyucikan" dirinya dan keturunannya.

Mengapa Pilatus tidak bisa membebaskan Yesus?

Apakah dia tidak membebaskan karena dia tidak mau walaupun punya kemampuan untuk itu?

Mrk 15:6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.

Pilatus TIDAK BISA membebaskan Yesus karena ada syaratnya, "menurut permintaan orang banyak"!

Mrk 15:44-45 Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati. Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf.

Pilatus ketika Yesus sudah disalibkan, ditombak, masih berkeyakinan Yesus tidak akan mati!

Yoh 19:38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea--ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi--meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.
Mat 27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.

Bahkan, ketika Yesus telah wafat, Pilatus masih menghormati-Nya!

Kalau dilihat, Pilatus sama berimannya dengan para Rasul, dan berani menentang orang banyak dengan menyatakan Yesus adalah Raja, Orang Benar dan tidak berdosa!

Salam

NB: iman Rasuli tidaklah sama dengan iman karbitan hasil "ahli-ahli tafsir" ribuan tahun kemudian, yang dengan lagak yang sok menjudge iman rasuli Gereja-Gereja yang didirikan para Rasul!!!

Anda yang "salah paham" Bro..... Saya dan Anda sebenarnya tidak berseberangan.
Hanya saja proyeksi penjelasannya yang berbeda, tetapi tidak bertentangan, bacalah lagi apa yg sedang saya jelaskan di atas.

Saya menunjukkan poin tindakan Pilatus "mencuci tangan", itu mempunyai makna implisit bahwa sebenarnya dia yakin Yesus tidak bersalah. Tetapi toh ia meluluskan permintaan rakyat mayoritas untuk menyalibkan Yesus, itu fakta....
Saya pun tidak menentang Tradisi suci dan Credo Kristiani yang menyebut nama Pontius Pilatus. Saya justru membela dan menunjukkan peneguhan kenapa nama Pontius Pilatus harus ada di dalam Credo kita ini.

Tak perlu lah Anda memperdebatkan sesuatu yang sebenarnya sepakat.
Baiklah... Baiklah...

Salam

Patung dan image dalam pandangan Alkitab dan Bapa Gereja penerus iman Rasuli

St Lukas (33 AD) painted this Icon of Mary (about the year 60 AD) while she was staying with St. John the Apostle. According to tradition, when St. Luke “wrote” the Icon, he accurately rendered the Blessed Virgin’s authentic facial features.

The Icon was written directly onto a three foot by five foot cedar plank, believed to be part of a table that Jesus had originally hand crafted during his time in Nazareth. When Mary went to stay with St. John, in Ephesus (a town located in southwestern Turkey) the table evidently made the trip, as well.

St. Ignatii (50 AD) certainly acknowledges that there are visions from God which are shown to those “who are renewed by the Holy Spirit, who put off the old Adam, and put on the New”.
“Thus,” he writes, “the holy Apostle Peter during prayer saw a notable sheet descending from heaven.
Thus, an angel appeared to Cornelius the centurion during prayer.
Thus, when Apostle Paul was praying in the Jerusalem temple, the Lord appeared to him and commanded him to immediately leave Jerusalem…”

Eusebius of Caesarea (263 AD):
But since I have come to mention this city, I do not think it right to omit a story that is worthy to be recorded also from those that come after us. For they say that the woman who had a haemorrhage, and who, as we learn from the sacred Gospels, found at the hands of our Saviour relief from her affliction, came to this place, and that her house was pointed out in the city, and that marvelous memorials of the good deed, which the Savior wrought upon her, still remained. For that there stood on a lofty stone at the gates of her house a bronze figure of a woman, bending on her knee and stretching forth her hands like a suppliant, while opposite to this there was another of the same material, an upright figure of a man, clothed in comely fashion in a double cloak and stretching out his hand to the woman; at his feet on the monument itself a strange species of herb was growing, which climbed up to the double cloak of bronze, and acted as an antidote to all kinds of diseases. This statue, they said, bore the likeness of the Lord Jesus. And it was in existence even to our day, so that we saw it with out own eyes when we stayed in the city.

St. John Chrysostom (347 AD):
“One way of coming to a knowledge of God is that which is provided by the whole of creation; and another, no less significant, is that which is offered by conscience, the whole of which we have expounded upon at greater length, showing you how you have a self-taught knowledge of what is good and of what is not so good, and how conscience urges all this upon you from within.
Two teachers, then, are given you from the beginning: creation and conscience.
Neither of them has a voice to speak out; they teach men in silence…”

“From the beginning God placed the knowledge of Himself in men, but the pagans awarded this knowledge to sticks and stones, doing wrong the truth to such an extent as they were able. For really, the truth remained unharmed, its own glory being immutable.
And how, O Paul, is it plain that God put this knowledge in them? ‘Because,’ he says, ‘what can be known of Him is manifested in them’ (Romans 1.19). But this is assertion, not proof.
Only reason it out for me, and show me that the knowledge of God was evident to them, and that they wilfully turned aside from it.
Whence, then, was it plain? Did He send them a voice from above? Of course not!
But He did something that was better able to draw them to Him than a voice: He put creation in front of them so that the wise and the simple, the Scythian and the barbarian, having learned by vision the beauty of what they saw, might mount up to God."

Macarius Magnes (350 AD):
Berenice, who once was mistress of a famous place, and honoured ruler of the great city of Edessa, having been delivered from an unclean issue of blood and speedily healed from a painful affection, whom many physicians tormented at many times, but increased the affection to the worst of maladies with no betterment at all, He made to be celebrated and famous in story till the present day in Mesopotamia, or rather in all the world - so great was her experience - for she was made whole by a touch of the saving hem of His garment. For the woman, having had the record of the deed itself nobly represented in bronze, gave it to her son, as something done recently, not long before.

Philostorgius (368 AD):
There is also the statue of the Saviour in the city of Paneas, a work of magnificent execution put up by the woman with the haemorrhage whom Christ healed, and erected on a notable site in the city... Now an herb grew up by the feet of our Saviour's image and the reason for this was sought, for in the passage of time both the person portrayed and the reason for the monument had been forgotten; it stood in the open with nothing to cover it, and much of the body was buried in the dirt that kept falling upon it from highter ground especially in times of rain, the dirt covering the writing that explained each of the matters. An inquiry was therefore instituted, the buried part was dug out, and the writing was found that told the whole story... The Christians removed it and put it in the sacristy of the church. The pagans pulled it down, fastened ropes to the feet, and dragged it through the public square until it was broken up bit by bit and so destroyed. Only the head was left; that was seized by someone while the pagans were raising their clamor and speaking blasphemies and utterly disgraceful words against our Lord Jesus Christ, words such as no one had ever heard.

St. Cyrillius dari Alexandria (376 AD)

Jika kita membuat patung orang-orang saleh, kita tidak bermaksud untuk menyembahnya, melainkan agar kita pada waktu melihatnya didorong untuk mencontohnya (In Ps 113;16 MG 69, 1268)

Sozomen (400 AD):
Among so many remarkable events which occurred during the reign of Julian, I must not omit to mention one which affords a sign of the power of Christ, and proof of the Divine wrath against the emperor.
Having heard that at Caesarea Philippi, otherwise called Paneas, a city of Phonicia, there was a celebrated statue of Christ which had been erected by a woman whom the Lord had cured of a flow of blood, Julian commanded it to be taken down and a statue of himself erected in its place; but a violent fire from heaven fell upon it and broke off the parts contiguous to the breast; the head and neck were thrown prostrate, and it was transfixed to the ground with the face downwards at the point where the fracture of the bust was; and it has stood in that fashion from that day until now, full of the rust of the lightning. The statue of Christ was dragged around the city and mutilated by the pagans; but the Christians recovered the fragments, and deposited the statue in the church in which it is still preserved. Eusebius relates, that at the base of this statue grew an herb which was unknown to the physicians and empirics, but was efficacious in the cure of all disorders. It does not appear a matter of astonishment to me, that, after God had vouchsafed to dwell with men, he should condescend to bestow benefits upon them.

John Malalas (491 AD):
In his grief King Herod, the son of Philip, came from Judea, and a certain wealthy woman, living in the city of Paneas, called Bernice, approached him, wishing to set up a statue to Jesus, for she had been healed by him. As she did not dare to do this without imperial permission, she addressed a petition to King Herod, asking to set up a golden statue to the Saviour Christ in that city. 

The petition ran as follows: To the august toparch Herod, lawgiver to Jews and Hellenes, king of Trachonitis, a petition and request from Bernice, a dignitary of the city of Paneas. Justice and benevolence and all other virtues crown your highness's sacred head. Thus, since I know this, I have come with every good hope that I shall obtain my requests. My words as they progress will reveal to you what foundation there is for this present preamble. From my childhood I have been smitten with the affliction of an internal haemorrhage; I spent all my livelihood and wealth on doctors but found no cure. When I heard of the cures that Christ performs with His miracles, He who raises the dead, restores the blind to sight, drives demons out of mortals, and heals with a word all those wasting away from disease, I too ran to Him as to God. I noticed the crowd surrounding him and I was afraid to tell Him of my incurable disease in case he should recoil from the pollution of my affliction and be angry with me and the violence of the disease should strike me even more. I reasoned to myself that, if I were able to touch the fringe of His garment, I would certainly be healed. I touched Him, and the flow of blood was stopped and immediately I was healed. He, however, as though He knew in advance my heart's purpose, cried out, Who touched Me? For power has gone out of Me. I went white with terror and lamented, thinking that the disease would return to me with greater force, and I fell before Him covering the ground with tears. I told Him of my boldness. Out of His goodness He took pity on me and confirmed my cure, saying, Be of good courage, My daughter, your faith has saved you. Go your way in peace. So, your august highness, grant your suppliant this worthy petition.

When King Herod heard the contents of this petition, he was amazed by the miracle and, fearing the mystery of the cure, said, This cure, woman, which was worked on you, is worthy of a greater statue. Go then and set up whatever kind of statue you wish to Him, honouring by the offering Him who healed you. Immediately, Bernice, who had formerly suffered from a haemorrhage, set up in the middle of her city of Paneas a statue of beaten bronze, mixing it with gold and silver, to the Lord God. This statue remains in the city of Paneas to the present day, having been moved not many years ago from the place where it stood in the middle of the city to a holy place, a house of prayer. This document was found in the city of Paneas in the house of a man called Bassus, a Jew who had become a Christian.

St John Climacus (579) writes in The Ladder that “the beginning of prayer consists in chasing away invading thoughts…”
The mind is to be freed from all thoughts and images and focused on the words of prayer. 
Further in the chapter on prayer, St. John instructs not to accept any sensual images during prayer, lest the mind falls into insanity; and not to gaze upon even necessary and spiritual things.

St Isaac of Syria (700 AD), a bishop and theologian, writing centuries earlier, conveys a similar warning to those who desire visions, saying that such a person is “tempted in his mind by the devil who mocks him” 

St. Germanus dari Konstantinopel (733 AD)

Jika kita menghormati gambar Kristus kita tidak menghormati kayu dan cat melainkan menyembah Allah yang tidak kelihatan dalam Roh dan Kebenaran.

St. Theodore of Studium (759 AD):
"If merely mental contemplation had been sufficient, it would have been enough for Him (GOD) to come to us in a merely mental way.”

St. Ignatii (Bryanchaninov) (1807 AD) categorically forbids seeking or expecting such “supernatural states”:
The praying mind must be in a fully truthful state.
Imagination, however alluring and well-appearing it may be, being the willful creation of the mind itself, brings the latter out of the state of Divine truth, and leads the mind into a state of self-praise and deception, and this is why it is rejected in prayer.

The mind during prayer must be very carefully kept without any images, rejecting all images, which are drawn in the ability of imagination…
Images, if the mind allows them during prayer, will become an impenetrable curtain, a wall between the mind and God.

http://en.m.wikipedia.org/wiki/Early_Christian_art
http://en.m.wikipedia.org/wiki/Roman_Catholic_art
http://en.m.wikipedia.org/wiki/Oldest_churches_in_the_world
http://id.wikipedia.org/wiki/Ichthus

Christian art is nearly as old as Christianity itself. The earliest surviving art works are the painted frescoes on the walls of the catacombs and meeting houses of the persecuted Christians of the Roman Empire. The recently excavated Dura-Europos house church on the borders of Syria dates from around 265 holds many images from the persecution period.

St. Luke painted this Icon of Mary (about the year 60 AD) while she was staying with St. John the Apostle. According to tradition, when St. Luke “wrote” the Icon, he accurately rendered the Blessed Virgin’s authentic facial features.

The Icon was written directly onto a three foot by five foot cedar plank, believed to be part of a table that Jesus had originally hand crafted during his time in Nazareth. When Mary went to stay with St. John, in Ephesus (a town located in southwestern Turkey) the table evidently made the trip, as well.

Lost for over 200 years, the Icon was discovered by St. Helena (mother of Emperor Constantine) in Jerusalem, buried near the True Cross, on or about the year 326 AD.

The title of the Icon is Salus Populi Romani (“Protectoress of the Roman People”). It is the only major Icon attributed to Saint Luke (who is also the writer of  the Gospel bearing his name, “the Acts of the Apostles” and most of St. Paul’s epistles.)

St. Luke is also believed to have been a physician (medical doctor).

Tradition and history informs us that St. Luke’s Icon has resided in St. Mary Major Basilica, Rome, for about 1,700 years.

In the Dura-Europos church, of about 230-256, which of the very early churches surviving is in the best condition, there are frescos of biblical scenes including a figure of Jesus, as well as Christ as the Good Shepherd. The building was a normal house apparently converted to use as a church. The earliest Christian paintings in the Catacombs of Rome are from a few decades before, and these represent the largest body of examples of Christian art from the pre-Constantinian period, with hundreds of examples decorating tombs or family tomb-chambers. Many are simple symbols, but there are numerous figure paintings either showing orants or female praying figures, usually representing the deceased person, or figures or shorthand scenes from the bible or Christian history.

In the 4th century, the Edict of Milan allowed public Christian worship and led to the development of a monumental Christian art.

Christ Jesus, the Good Shepherd, dating to the beginning of the 2nd century.

The Virgin Mary, from the middle of the 2nd century.

Jesus healing the bleeding woman, Roman catacombs, 300-350

Good Shepherd from the Catacomb of Priscilla, 250-300

The Protestant Reformation was a holocaust of art in many parts of Europe. Although Lutheranism was prepared to live with much existing Catholic art so long as it did not become a focus of devotion, the more radical views of Calvin, Zwingli and others saw public religious images of any sort as idolatry, and art was systematically destroyed in areas where their followers held sway. This destructive process continued until the mid-17th century, as religious wars brought periods of iconoclast Protestant control over much of the continent. In England and Scotland destruction of religious art, most intense during the English Commonwealth, was especially heavy. Some stone sculpture, illuminated manuscripts and stained glass windows (expensive to replace) survived, but of the thousands of high quality works of painted and wood-carved art produced in medieval Britain, virtually none remain.

Dikisahkan bahwa selama era pengejaran dan penyiksaan umat Kristiani di awal berdirinya gereja, seorang pengikut Kristus yang bertemu dengan orang yang baru dikenalnya akan menggambar sebuah lengkungan sederhana di atas tanah. Apabila orang lain tersebut adalah juga seorang Kristiani maka ia akan melengkapi gambar tersebut menjadi seekor ikan dengan menggambar lengkungan kedua. Apabila orang lain tersebut ternyata bukan seorang Kristiani, maka ketidak-jelasan gambar sebuah lengkungan tidak akan menghubungkan orang yang pertama tersebut sebagai seorang pengikut Kristus.

1Raj 6:23  Selanjutnya di dalam ruang belakang itu dibuatnya dua kerub dari kayu minyak, masing-masing sepuluh hasta tingginya. 
1Raj 6:24  Sayap yang satu dari kerub itu lima hasta panjangnya dan sayap yang lain juga lima hasta, sehingga dari ujung sayap yang satu sampai ke ujung sayap yang lain sepuluh hasta panjangnya. 
1Raj 6:25  Juga kerub yang kedua adalah sepuluh hasta panjangnya; dan kedua kerub itu sama ukuran dan sama potongan badannya. 
1Raj 6:26  Tinggi kerub yang satu sepuluh hasta dan demikian juga kerub yang kedua. 
1Raj 6:27  Maka ditaruhnyalah kerub-kerub itu di tengah-tengah ruang yang di sebelah dalam sekali; kerub-kerub itu mengembangkan sayapnya, sehingga kerub yang satu menyentuh dinding dengan sayapnya dan kerub yang kedua menyentuh dinding yang lain, sedang sayap-sayap yang arah ke tengah rumah itu bersentuhan ujungnya. 
1Raj 6:28  Dan kerub-kerub itu dilapisinya dengan emas.
1Raj 6:29 Dan pada segala dinding rumah itu berkeliling ia mengukir gambar kerub, pohon korma dan bunga mengembang, baik di ruang sebelah dalam maupun di ruang sebelah luar
Kel 25:1-2,18-19 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu. Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya.
Yosua 7:6
Yosua pun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel, sambil menaburkan debu di atas kepalanya.

Titus 1:15 Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.

KGK 2113     Pemujaan berhala tidak hanya ditemukan dalam upacara palsu di dunia kafir. Ia juga merupakan satu godaan yang terus-menerus bagi umat beriman. Pemujaan berhala itu ada, apabila manusia menghormati dan menyembah suatu hal tercipta sebagai pengganti Allah, apakah itu dewa-dewa atau setan-setan (umpamanya satanisme) atau kekuasaan kenikmatan, bangsa, nenek moyang, negara, uang, atau hal-hal semacam itu. “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” demikian kata Yesus (Mat 6:34). Banyak martir yang meninggal karena mereka tidak menyembah “binatang” (Bdk Why l3-l4).; malahan mereka juga menolak menyembahnya, walaupun hanya dengan berpura-pura saja. Pemujaan berhala tidak menghargai Allah sebagai Tuhan yang satu-satunya; dengan demikian ia mengeluarkan orang dari persekutuan dengan Allah (Bdk Gal 5:20; Ef 5:5).

Ef 5:5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.

Di sini jelas dikatakan bahwa orang yang menomorsatukan uang/ serakah dan kecemaran/ kenikmatan seksual di atas segala- galanya, adalah penyembah berhala, yang tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Sebab perintah Allah yang utama seperti diajarkan oleh Kristus adalah, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Mrk 12:30, lih. Mat 22:37, Luk 10:27).
Maka jika seseorang mengarahkan segenap hati, jiwa, akal budi, kekuatan, hanya untuk mengejar ‘ciptaan’ saja (uang, kekuasaan, kenikmatan duniawi), maka ia dapat dikatakan “menyembah berhala” karena menggantikan kedudukan Tuhan dengan ciptaan itu.
Ia memang tidak usah mengakui bahwa uang, kekuasaan, atau kenikmatan itu adalah Sang Pencipta, atau memberikan korban bakaran kepada uang, kekuasaan, kenikmatan itu; namun dengan sikap hidupnya yang menggantikan tempat Tuhan dengan hal- hal itu, itu sudah merupakan penyembahan berhala.
Demikianlah yang diajarkan oleh Kitab Suci, dan oleh Gereja Katolik.

Nah, mengapa protestan berbeda dengan iman Rasuli?

Tanya kenapa...

Salam



Wajah Yesus pada Kain Kafan Turin hampir serupa dengan Wajah Yesus pada lukisan Gereja Perdana

Mengapa protestan berbeda dengan iman Rasuli?

Tanya kenapa...

Salam


Maria dalam pandangan para Bapa Gereja penerus Iman Rasuli

Bunda Allah:
1. St. Irenaeus (180): “Perawan Maria, yang taat kepada Sabda-Nya menerima dari kabar gembira malaikat bahwa ia akan melahirkan Tuhan.”.
2. St. Petrus dari Alexandria (260-311): “Kami mengakui kebangkitan orang mati, di mana Yesus kristus Tuhan kita menjadi yang pertama; Ia mempunyai tubuh yang sungguh, bukan hanya kelihatan sebagai tubuh, tetapi tubuh yang diperoleh dari Maria Bunda Allah.
3. St. Cyril dari Jerusalem (350): “Banyaklah saksi sejati tentang Kristus. Allah Bapa memberi kesaksian tentang Putera-Nya dari Surga, ROH KUDUS turun dengan mengambil rupa seperti burung merpati: Penghulu malaikat memberikan kabar gembira kepada Maria: Perawan Bunda Allah memberikan kesaksian …..”
4. St. Athanasius (365): “Sabda Allah Bapa di tempat yang Maha tinggi, …. adalah Ia yang dilahirkan di bawah ini, oleh Perawan Maria, Bunda Allah.
5. St. Epifanus (374): Ia [Kristus] membentuk manusia menjadi sempurna di dalam Diri-Nya sendiri, dari Maria Bunda Allah, melalui ROH KUDUS.”
6. St. Ambrosius (378): “Biarkan hidup Maria …. memancar seperti penampakan kemurnian dan cermin bentuk kebajikan…. Hal utama yang mendorong semangat dalam proses belajar adalah kebesaran sang guru. Apakah yang lebih besar daripada Bunda Tuhan?
7. St. Jeromus/ Jerome (384): “Jadikan teladanmu, Maria yang terberkati, yang karena kemurniannya yang tak tertandingi menjadikannya Bunda Allah.”
8. St. Gregorius Naziansa (382) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga secara manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia).
9. St. Yohanes Cassian (430): “….Kami akan membuktikan oleh kesaksian Ilahi bahwa Kristus adalah Allah dan bahwa Maria adalah Bunda Allah.”.
10. St. Cyril dari Alexandria (444): “Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?”.
11. St. Vincent dari Lerins (450): “Semoga Tuhan melarang siapapun yang berusaha merampas dari Maria yang kudus, hak- hak istimewanya yaitu rahmat ilahi dan kemuliaannya. Sebab dengan keistimewaannya yang unik dari Tuhan, ia disebut sebagai Bunda Allah [Theotokos] yang sungguh dan yang sangat terberkati. Santa Maria adalah Bunda Allah, sebab di dalam rahimnya yang kudus digenapilah misteri yang karena kesatuan Pribadi yang unik dan satu- satunya, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, sehingga manusia itu adalah Tuhan dan di dalam Tuhan.
12. St. Yohanes Damaskinus (749): “Biarkanlah Nestorius menjadi malu dan menutup mulutnya. Anak ini adalah Allah. Bagaimana mungkin ia yang melahirkan-Nya bukan Bunda Allah?”.

Maria menjadi Bunda Gereja
a. Origen (244)
Putera Maria hanya Yesus sendiri; dan ketika Yesus berkata kepada Ibu-Nya, “Lihatlah, anakmu,” seolah Ia berkata, “Lihatlah orang ini adalah Yesus sendiri, yang engkau lahirkan.” Sebab setiap orang yang dibaptis, hidup tidak lagi dirinya sendiri, tetapi Kristus hidup di dalamnya. Dan karena Kristus hidup di dalamnya, perkataan kepada Maria ini berlaku baginya, “Lihatlah anakmu- Kristus yang diurapi.”
b. St. Ephrem dari Syria (306- 373)
“Kelahiran-Mu yang ilahi, O Tuhan, melahirkan semua ciptaan;
Umat manusia dilahirkan kembali darinya [Maria], yang melahirkan Engkau.
Manusia melahirkan Engkau di dalam tubuh; Engkau melahirkan manusia di dalam roh…”
c. St. Agustinus (416)
“Maria adalah sungguh ibu dari anggota- anggota Kristus, yaitu kita semua. Sebab oleh karya kasihnya umat manusia telah dilahirkan di Gereja, [yaitu]para umat beriman yang adalah Tubuh dari Sang Kepala, yang telah dilahirkannya ketika Ia menjelma menjadi manusia.”
d. Paus Pius X (1903- 1914)
“Bukankah Maria adalah Bunda Yesus? Oleh karena itu ia adalah bunda kita juga…. Maria yang mengandung Sang Juruselamat dalam rahimnya, dapat dikatakan juga mengandung mereka yang hidupnya terkadung di dalam hidup Sang Juruselamat. Karenanya, kita semua … telah dilahirkan dari rahim Maria sebagai tubuh yang bersatu dengan kepalanya. Oleh karena itu, dalam pengertian rohani dan mistik, kita disebut sebagai anak- anak Maria, dan ia adalah Bunda kita semua.

Maria menjadi Mediatrix (perantara) dengan doa syafaatnya di Surga
1. St. Irenaeus (180):
“Sebab Hawa terpedaya oleh perkataan malaikat [Iblis = fallen angel] untuk lari dari Tuhan, memberontak melawan Sabda-Nya, namun Maria menerima dengan gembira perkataan malaikat bahwa ia akan melahirkan Tuhan, dengan menaati Sabda-Nya. Yang pertama terpedaya untuk tidak taat kepada Tuhan, sedangkan yang kedua terpengaruh untuk menaati Tuhan, sehingga Perawan Maria dapat menjadi pembela bagi perawan Hawa. Seperti umat manusia tunduk kepada kematian melalui tindakan seorang perawan maka ia diselamatkan oleh seorang perawan.
2. Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir, (abad ke 3):
“Di bawah belas kasihanmu kami berlindung, O bunda Allah. Jangan menolak permohonan kami di dalam kekurangan, tetapi bebaskan kami dari bahaya, (o engkau) satu- satunya yang murni dan terberkati.”
3. St. Gregory Nazianza (379)
“Ingatlah akan hal- hal ini dan kesempatan- kesempatan yang lain dan mohonlah kepada Perawan Maria untuk memberikan bantuan, sebab ia juga, adalah seorang perawan dan pernah berada di dalam bahaya ….”
4. St. Cyril dari Alexandria (380)
“Salam kepadamu Maria, Bunda Allah, kepadamu dibangun gereja- gereja jemaat sejati, di desa- desa dan pulau- pulau.”
5. St. Basil dari Seleucia (459)
O Perawan yang kudus …. Lihatlah kepada kami dan berbaik hatilah kepada kami. Pimpinlah kami di dalam kedamaian … ke sisi kanan Putera-Mu…
6. Theoteknos dari Livias (560)
“Diangkat ke surga, ia tetap menjadi tempat pertahanan yang tak tergoyahkan bagi umat manusia, [sebagai]pendoa syafaat bagi kita di hadapan Allah Putera.”
7. St. Germanus dari Konstantinopel (733)
“Maria tetap Perawan — pertama- tama sebagai mediatrix (pengantara) melalui peristiwa melahirkan [Kristus] yang supernatural, dan sekarang sebagai mediatrix karena bantuan keibuannya melalui doa syafaat—
8. St. Yohanes Damaskinus (749)
“Kini kami tetap di dekatmu, … O Bunda Allah dan Perawan. Kami mengikatkan jiwa kami kepada pengharapanmu, seperti kepada jangkar yang teguh dan tak terpatahkan, menyerahkan kepadamu akal budi, jiwa, tubuh dan segalanya, untuk menghormatimu….
9. Ambrosius Autpert (778)
Marilah kita mempercayakan diri kita dengan kasih jiwa kita kepada doa syafaat Perawan yang terberkati: dengan segenap kekuatan kita, memohon perlindungannya agar, ketika di dunia kita mengelilinginya dengan penghormatan, ia sendiri di surga dapat berkenan mendukung kita dengan doa- doanya….

Perawan dan Tak Berdosa:
1. St. Irenaeus (180): “Hawa, dengan ketidaktaatannya [karena berdosa]mendatangkan kematian bagi dirinya dan seluruh umat manusia, … Maria dengan ketaatannya [tanpa dosa]mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan seluruh umat manusia…. Oleh karena itu, ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”
2. St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.”
3. Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu- satunya”.
4. St. Gregorius (213-270): “Mari menyanyikan melodi yang diajarkan kepada kita oleh inspirasi harpa Raja Daud dan berkata, “Bangunlah, O Tuhan, kepada peristirahatanmu; Engkau, dan tabut tempat kudus-Mu.” Sebab sesungguhnya Sang Perawan Suci adalah sebuah tabut, yang dilapisi emas dari dalam dan luar, yang telah menerima keseluruhan harta dari tempat kudus.”
5. St. Ephraim (361): ”Engkau sendiri dan Bunda-Mu adalah yang terindah daripada semua yang lain, sebab tidak ada cacat cela di dalam-Mu ataupun noda pada Bunda-Mu… “Biarkan para wanita memuji-Nya, Maria yang murni.”
6. St. Athanasius (373), “O, Perawan yang terberkati, sungguh engkau lebih besar daripada semua kebesaran yang lain. Sebab siapakah yang sama dengan kebesaranmu, O tempat kediaman Sang Sabda Allah? Kepada ciptaan mana, harus kubandingkan dengan engkau, O Perawan? Engkau lebih besar daripada semua ciptaan, O Tabut Perjanjian, yang dilapis dengan kemurnian, bukannya dengan emas! Engkau adalah Tabut Perjanjian yang didalamnya terdapat bejana emas yang berisi manna yang sejati, yaitu: daging di mana Ke-Allahan tinggal.”
7. St. Epifanius (376): “Barangsiapa yang menghormati Tuhan, menghormati juga bejana kudus-Nya; mereka yang tidak menghormati bejana kudus itu, juga tidak menghormati Pemiliknya. Maria itulah adalah Perawan yang kudus, yaitu sang bejana kudus itu.”
8. St. Ambrose (387): “Angkatlah tubuhku, yang telah jatuh di dalam Adam. Angkatlah aku, tidak dari Sarah, tetapi dari Maria, seorang Perawan, yang tidak saja tidak bernoda, tetapi Perawan yang oleh rahmat Allah telah dibuat tidak bersentuh dosa, dan bebas dari setiap noda dosa”.
9. St. Gregorius Nazianza (390): “Ia [Yesus] dikandung oleh seorang perawan, yang terlebih dahulu telah dimurnikan oleh ROH KUDUS di dalam jiwa dan tubuh, sebab seperti seseorang yang mengandung layak untuk menerima penghormatan, maka pentinglah bahwa ia yang perawan layak menerima penghormatan yang lebih besar.”
10. St. Agustinus (415): “Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya, yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa.”
11. Theodotus (446): “Seorang perawan, yang tak berdosa, tak benoda, bebas dari cacat cela, tidak tersentuh, tidak tercemar, kudus dalam jiwa dan tubuh, seperti setangkai lili yang berkembang di antara semak duri.”.
12. Proclus dari Konstantinopel (446): “Seperti Ia [Yesus] membentuknya [Maria] tanpa noda dari dirinya sendiri, maka Ia dilahirkan daripadanya tanpa meninggalkan noda.
13. St. Severus (538): “Ia [Maria] …sama seperti kita, meskipun ia murni dari segala noda, dan ia tanpa noda.”.
14. St. Germanus dari Konstantinopel (733), mengajarkan tentang Maria sebagai yang “benar- benar terpilih, dan di atas semua, … melampaui di atas semua dalam hal kebesaran dan kemurnian kebajikan ilahi, tidak tercemar dengan dosa apapun.”

Perawan Abdi
1. St. Ignatius dari Antiokhia (meninggal tahun 110), Origen (233), Hilarius dari Poiters (m. 367) dan St.Gregorius Nissa (m. 394), mengajarkan tentang keperawanan Bunda Maria.
2. Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan… yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami.”
3. St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya/ Ever Virgin.
4. St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria yang suci dan tetap Perawan oleh ROH KUDUS….”
5. St. Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf.
6. St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya.

“Dengan kuasa ROH KUDUS yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).” ROH KUDUS yang membangkitkan Yesus dari mati adalah ROH KUDUS yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.

Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.”
7. St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan”.
8. Paus St. Leo Agung (440-461) :“a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.- [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan.”.
9.St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: "Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ‘sulung’…. arti kata ‘sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.”

Maria Pengantara Doa
1. St. Yustinus Martir (155) membandingkan Hawa dengan Bunda Maria. “Sebab Hawa yang perawan tak bernoda, percaya kepada perkataan sang ular, [sehingga]membawa ketidaktaatan dan maut. Sedangkan Perawan Maria menerima dengan iman dan suka cita ketika malaikat Gabriel memberikan kabar gembira bahwa ROH KUDUS akan turun atasnya dan kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaungi dia, dan karena itu Putera yang dilahirkannya adalah Putera Allah…
2. St. Irenaeus (180): “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”

“Sebab seperti Hawa telah terpedaya oleh perkataan malaikat [fallen angel] untuk melarikan diri dari Tuhan, maka Maria dengan perkataan malaikat menerima kabar gembira bahwa ia akan melahirkan Tuhan dengan menaati Sabda-Nya. [Perempuan] yang pertama terpedaya untuk tidak menaati Tuhan, tetapi [perempuan]yang kemudian terdorong untuk menaati Tuhan, sehingga Perawan Maria dapat menjadi pembela bagi perawan Hawa. Seperti umat manusia ditundukkan kepada kematian melalui [tindakan]seorang perawan, demikianlah umat manusia diselamatkan oleh seorang perawan.”
3. Tertullian (212): “Sebab ketika Hawa masih perawan, perkataan yang sesat merasuki telinganya sehingga membangun kematian. Dengan cara serupa, ke dalam jiwa seorang perawan, haruslah diperkenalkan Sabda Allah yang membangkitkan kehidupan; sehingga apa yang telah dihancurkan oleh jenis kelamin ini, dapat, oleh jenis kelamin yang sama, dipulihkan menuju keselamatan….
4. St. Ambrosius (397): “Kejahatan didatangkan oleh perempuan (Hawa), maka kebaikan juga harus didatangkan oleh Perempuan (Maria); sebab oleh karena Hawa kita jatuh, namun karena Maria kita berdiri; karena Hawa kita menjadi budak dosa, namun oleh Maria kita dibebaskan…. Hawa menyebabkan kita dihukum oleh buah pohon (pohon pengetahuan), sedangkan Maria membawa kepada kita pengampunan dengan rahmat dari Pohon yang lain (yaitu Salib Yesus), sebab Kristus tergantung di Pohon itu seperti Buahnya…”.
5. St. Agustinus (416): ”Kita dilahirkan ke dunia oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria.”.
6. St. Germanus dari Konstantinopel (733): “Tak seorangpun mencapai keselamatan tanpa melalui engkau, …O yang terkudus. Tak seorangpun menerima karunia rahmat tanpa melalui engkau …O yang termurni.

“Maria, yang tetap Perawan… mediatrix/ pengantara pertama- tama melalui kelahiran yang ilahi [inkarnasi Yesus]dan kini karena doa syafaat bantuan keibuannya– dimahkotai dengan berkat yang tidak pernah berakhir ….
7. St. Yohanes Damaskinus (749): “Hari ini kami tetap di dekatmu, O Bunda Allah dan Perawan. Kami mengikatkan jiwa kami kepada pengharapanmu, seperti kepada jangkar yang paling teguh dan tak terpatahkan, menyerahkan kepadamu, pikiran, jiwa, tubuh dan keseluruhan diri kami dan menghormatimu, sebanyak mungkin, dengan mazmur, lagu pujian dan lagu rohani.”
8. St. Ambrose Autpert (778): “Mari mempercayakan diri kita dengan segala kasih jiwa kita kepada perantaraan Bunda Maria: mari kita, dengan seluruh kekuatan kita memohon perlindungannya, agar, ketika di dunia kita mengelilinginya dengan penghormatan, ia di surga akan berkenan mendukung kita dengan doa- doanya yang khusuk…”

Sumber: Katolisitas

Maria diangkat ke Sorga
a. St. Melito (300): Oleh karena itu, jika hal itu berada dalam kuasaMu, adalah nampak benar bagi kami pelayan- pelayan-Mu, bahwa seperti Engkau yang telah mengatasi maut, bangkit dengan mulia, maka Engkau seharusnya mengangkat tubuh Bundamu dan membawanya dengan-Mu, dengan suka cita ke dalam surga. Lalu kata Sang Penyelamat [Yesus]: “Jadilah seperti perkataanmu”.
b. Timotius dari Yerusalem (400)
Oleh karena itu Sang Perawan [Maria] tidak mati sampai saat ini, melihat bahwa Ia yang pernah tinggal di dalamnya memindahkannya ke tempat pengangkatannya.
c. Yohanes Sang Theolog (400)
Tuhan berkata kepada Ibu-Nya, “Biarlah hatimu bersuka dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari Bapa-Ku di Surga dan dari-Ku dan dari ROH KUDUS. Setiap jiwa yang memanggil namamu tidak akan dipermalukan, tetapi akan menemukan belas kasihan dan ketenangan dan dukungan dan kepercayaan diri, baik di dunia sekarang ini dan di dunia yang akan datang, di dalam kehadiran Bapa-Ku di Surga”… Dan dari saat itu semua mengetahui bahwa tubuh yang tak bercacat dan yang berharga itu telah dipindahkan ke surga.
d. St. Gregorius dari Tours (575)
Para Rasul mengambil tubuhnya [jenazah Maria]dari peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya, mengharapkan Tuhan [Yesus] agar datang. Dan lihatlah, Tuhan datang kembali di hadapan mereka; dan setelah menerima tubuh itu, Ia memerintahkan agar tubuh itu diangkat di awan ke surga: di mana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria] bersukacita dengan para terpilih Tuhan …
e. Theoteknos dari Livias (600)
Adalah layak … bahwa tubuh Bunda Maria yang tersuci, tubuh yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak rusak, diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh …. agar hidup di dunia untuk sementara dan diangkat ke surga dengan kemuliaan, dengan jiwanya yang menyenangkan Tuhan.
f. Modestus dari Yerusalem (sebelum 634)
Sebagai Bunda Kristus yang termulia… telah menerima kehidupan dari Dia [Kristus], ia telah menerima kekekalan tubuh yang tidak rusak, bersama dengan Dia yang telah mengangkatnya dari kubur dan mengangkatnya kepada Diri-Nya dengan cara yang hanya diketahui oleh-Nya.
g. Uskup Theoteknos dari Livias (650)
Adalah layak …. bahwa tubuh Maria yang tersuci, tubuh yang mengandung Tuhan, tempat kediaman Tuhan, yang dijadikan ilahi, tidak rusak, [namun]diterangi oleh rahmat ilahi dan kemuliaan yang penuh…. dititipkan sejenak di dunia dan kemudian diangkat ke surga dengan mulia, dengan jiwanya menyenangkan Tuhan.
h. St. Germanus dari Konstantinopel (683)
Engkau adalah ia, …. yang nampak dalam kecantikan, dan tubuhmu yang perawan adalah semuanya kudus, murni, keseluruhannya adalah tempat tinggal Allah, sehingga karena itu dibebaskan dari penguraian menjadi debu. Meskipun masih manusia, tubuhmu diubah ke dalam kehidupan surgawi yang tidak dapat musnah, sungguh hidup dan mulia, tidak rusak dan mengambil bagian dalam kehidupan yang sempurna.
i. St. Yohanes Damaskinus (697)
Adalah layak bahwa ia, yang tetap perawan pada saat melahirkan, tetap menjaga tubuhnya dari kerusakan bahkan setelah kematiannya. Adalah layak bahwa dia, yang telah menggendong Sang Pencipta sebagai anak di dadanya, dapat tinggal di dalam tabernakel ilahi. Adalah layak bahwa mempelai, yang diambil Bapa kepada-Nya, dapat hidup dalam istana ilahi. Adalah layak bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di salib dan yang telah menerima di dalam hatinya pedang duka cita yang tidak dialaminya pada saat melahirkan-Nya, dapat memandang Dia saat Dia duduk di sisi Bapa. Adalah layak bahwa Bunda Tuhan memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa ia layak dihormati oleh setiap mahluk ciptaan sebagai Ibu dan hamba Tuhan.
j. Gregorian Sacramentary (795)
“Terhormat bagi kami, O Tuhan, perayaan hari ini, yang memperingati Bunda Allah yang kudus yang meninggal dunia untuk sementara waktu, namun tetap tidak dapat dijerat oleh maut, yang telah melahirkan Putera-Mu, Tuhan kami yang menjelma dari dirinya.”
k. Gallican Sacramentary (abad ke-8)
“Sebuah misteri yang tak terlukiskan yang paling layak untuk dipuji seperti diangkatnya Perawan Maria ke surga, adalah sesuatu yang unik di antara umat manusia.”
l. Liturgi Byzantin (abad ke-8)
“Tuhan, Raja semesta alam, telah memberikan rahmat yang melampaui kodrat. Seperti Ia telah memelihara keperawananmu pada saat kelahiran-Nya, Ia menjaga tubuhmu agar tidak rusak di kubur dan telah memuliakannya dengan perbuatan-Nya yang ilahi dengan memindahkannya dari kubur.”

Ajaran iman Rasuli, dari para Rasul, diteruskan oleh para Bapa Gereja, murid-murid langsung para Rasul, diteruskan tidak terputus dan yang dipegang teguh oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja-Gereja Katolik Orthodox, dipertahankan sampai detik ini, lalu,

Mengapa protestan berbeda dengan ajaran iman Rasuli ini?

Tanya kenapa...

Salam