Sabtu, 15 Juni 2013

Rom 3:7 (Apakah Paulus berbohong?)

Untuk mengerti ayat ini, maka kita harus menganalisanya dari: (1) Konteks tanya jawab, (2) Kecaman untuk orang yang menghalalkan segala cara dan yang mengeraskan hatinya. Mari kita menganalisanya satu persatu.

1. Konteks tanya jawab.

Mari kita melihat teks Rom 3:1-8 sebagai berikut:
1. Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat?
2. Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah.
3. Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah?
4. Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: “Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi.”
5. Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah–aku berkata sebagai manusia–jika Ia menampakkan murka-Nya?
6. Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia?
7. Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?
8. Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.

Dari ayat-ayat di atas, maka kita dapat melihat bahwa rasul Paulus menggunakan dinamika tanya-jawab untuk memberikan pengajaran. Dalam pengajaran di atas, rasul Paulus seolah-olah sedang bertanya-jawab dengan penuduh atau orang-orang Yahudi. Untuk mempermudah, pertanyaan dari orang-orang Yahudi ini saya beri warna merah. Mengikuti konteks ini, maka rasul Paulus bukannya menyatakan dia berbohong, namun yang menyatakan adalah orang-orang Yahudi yang menuduh dia. Tuduhan di bab 3 adalah merupakan kelanjutan dari tuduhan-tuduhan yang dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan di bab 2 atau bab sebelumnya (Pertanyaan 1 (ay.3-10) – Apakah Tuhan yang baik tidak menghukum dosa manusia; Pertanyaan 2 (ay.11-24) – Apakah Taurat dapat melindungi bangsa Israel dari keadilan Allah? ; Pertanyaan 3 (ay.25-29) – Apakah sunat dapat menyelamatkan?) Setelah tiga pertanyaan tersebut dijawab oleh rasul Paulus di bab 2, maka di bab 3 pertanyaan-pertanyaan ini dilanjutkan sebagai berikut:

Pertanyaan 4 (ay.1-2): Apakah kelebihan orang-orang Yahudi (yang mempunyai taurat dan tanda sunat) dibandingkan dengan bangsa lain? Rasul Paulus menjawab bahwa bangsa Yahudi mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan bangsa lain, terutama dipercaya akan Firman Tuhan, yang telah disampaikan oleh Tuhan dengan perantaraan para nabi seperti yang tertulis di dalam Perjanjian Lama.

Pertanyaan 5 (ay.3-4): Kalau ada dari bangsa Yahudi tidak setia, apakah kemudian kesetiaan Allah menjadi batal? Kita mengingat bahwa Allah telah memilih bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan dan Allah telah mengikat perjanjian dengan bangsa Yahudi. Dan Allah senantiasa benar dan tidak mungkin berbohong, yang berarti Dia tidak pernah mengingkari perjanjian yang telah diikat-Nya dengan bangsa Yahudi. Namun, sebaliknya, manusialah yang selalu lemah dan sering mengingkari (berbohong) perjanjian dengan Allah, dengan tidak setia terhadap Allah dan perintah-perintah-Nya. Kesetiaan Allah di tengah-tengah ketidaksetiaan manusia ditegaskan oleh rasul Paulus di 2Tim 2:13 yang mengatakan “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.“

Pertanyaan 6 (ay.5-8 ): Apakah dengan demikian manusia dapat bertindak tidak benar untuk menunjukkan kebenaran Allah? Rasul Paulus menjawab bahwa orang yang menyatakan hal ini sudah selayaknya mendapatkan hukuman (ay.6,8 )


II. Kecaman untuk orang yang menghalalkan segala cara dan mengeraskan hatinya

Pernyataan ke-6 di atas adalah pertanyaan dari orang yang mengeraskan hati, yang membuat begitu banyak pembenaran diri. Dia membuat alasan, bahwa dengan ketidakbenarannya, maka Alah dapat menyatakan kebenaran-Nya. Rasul Paulus menegaskan bahwa orang seperti ini layak mendapatkan murka Allah (ay.6) dan layak mendapatkan hukuman (ay.8 ). Kemudian rasul Paulus menggunakan logika dari si penuduh, yaitu kalau memang demikian – bahwa orang berdosa atau yang mengeraskan hati dapat bermegah terhadap dosanya karena dengan demikian Tuhan dapat semakin menyatakan kemuliaan-Nya – maka bagaimana Tuhan akan memberikan keadilan kepada mereka. Itu berarti orang-orang jahat ini tidak dapat menerima hukuman, karena mereka justru memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan.

Dan dengan menggunakan logika yang sama, rasul Paulus berkata “Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (ay.7) Ayat ini bukan mengatakan bahwa Paulus berbohong, namun untuk membuktikan kesalahan penuduh dengan menggunakan logika sang penuduh. Jadi, kalau memang benar, bahwa karena bangsa Yahudi harus bermegah dengan kesalahan atau dosanya sehingga Tuhan dapat semakin dimuliakan, maka seharusnya Paulus – yang dianggap seorang pendusta (berpindah dari agama Yahudi ke Kristen) – seharusnya dengan kesalahan Paulus maka kemuliaan Tuhan semakin nampak. Namun bukankah rasul Paulus masih terus dihakimi dan dikejar-kejar dan bahkan hendak dibunuh oleh bangsa Yahudi?

Ide pemikiran untuk membenarkan diri akan kesalahan demi semakin memuliakan nama Tuhan sungguh tidak benar dan rasul Paulus kembali menegaskan bahwa ini adalah suatu fitnahan dan layak mendapatkan hukuman. (ay.8 )

Semoga dua point di atas dapat memberikan bukti yang kuat bahwa ayat Rom 3:7 bukanlah merupakan bukti bahwa rasul Paulus adalah pembohong, namun sebaliknya, rasul Paulus ingin membuktikan kesalahan pemikiran dari sebagian orang Yahudi yang mengeraskan hati mereka. Untuk memperoleh pemahaman yang benar tentang hal ini, kita harus melihat konteks dari ayat tersebut serta prinsip bahwa tujuan tidak dapat dicapai dengan menghalalkan segala cara.

Husada wrote:
Damai bagi LTBers sekalian.
Menurut hemat saya, titik berat trit ini, yaitu yang ingi di gali, ialah:
bruce wrote:
7. Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?
CMIIW.
Dalam benak saya justru ingin menanyakan, "Memang ada dusta Paulus? Di mana?"
Damai, damai, damai.
St Yopi:

Romans 3:7
εἰ δὲ ἡ ἀλήθεια τοῦ θεοῦ ἐν τῷ ἐμῷ ψεύσματι ἐπερίσσευσεν εἰς
τὴν δόξαν αὐτοῦ, τί ἔτι καγὼ ὡς ἁμαρτωλὸς κρίνομαι;
KJV with Strong's
For if the truth of God hath more abounded through my lie unto his
glory why yet am I also judged as a sinner

STRONGS NT 5582: ψεῦσμα
ψεῦσμα, ψευσματος , τό ( ψεύδω), a
falsehood, a lie (Plato, Meno, p. 71 d.;
Plato, Lucian; the Sept.); specifically, the
perfidy by which a man by sinning
breaks faith with God, Romans 3:7 .

Perhatikan "breaks faith with God" (Romans 3-7)

Selanjutnya Perhatikan penjelasan diatas

Husada wrote:
St Yopi wrote:
Romans 3:7 Greek Study Bible ( Apostolic / Interlinear)
εἰ δὲ ἡ ἀλήθεια τοῦ θεοῦ ἐν τῷ ἐμῷ ψεύσματι ἐπερίσσευσεν εἰς
τὴν δόξαν αὐτοῦ, τί ἔτι καγὼ ὡς ἁμαρτωλὸς κρίνομαι;
KJV with Strong's
For if the truth of God hath more abounded through my lie unto his
glory why yet am I also judged as a sinner

STRONGS NT 5582: ψεῦσμα
ψεῦσμα, ψευσματος , τό ( ψεύδω), a
falsehood, a lie (Plato, Meno, p. 71 d.;
Plato, Lucian; the Sept.); specifically, the
perfidy by which a man by sinning
breaks faith with God, Romans 3:7 .

Perhatikan "breaks faith with God (Romans 3-7)

Selanjutnya Perhatikan penampakan bro Bruce
Terima kasih, Yop.

Dengan menyesal, saya mengaku bahwa saya kurang memahami frasa Inggris. Dengan mencoba memperhatikan dan mengira-ngira arti dari breaks faith with God saya sampai pada: menghentikan iman/percaya pada Tuhan. Selanjutnya memperhatikan paparan (penampakan?) bro Bruce, saya tidak menangkap ada kesinambungan.

O ya. Dengan pemahaman saya yang sangat terbatas, dari paparan Bruce saya tangkap bahwa Paulus dengan gaya retorikanya mengaku 'seolah-olah', sekali lagi 'seolah-olah' Pulus adalah seorang pendosa (sinner), atau pembohong, atau pembuat salah.

Itu pula yang ingin saya ketahui dengan pertanyaan saya,
Husada wrote:
Dalam benak saya justru ingin menanyakan, "Memang ada dusta Paulus? Di mana?"

Dengan kata lain, menurut pemahaman saya, Paulus, saya duga, selalu dituduh sebagai pembohong oleh masyarakat Yahudi. Meski Paulus sudah memberikan argumen, tetapi dia selalu dituduh sebagai pembohong/pendusta/pembuat salah (baca: dihakimi). Maka, Paulus mengaku 'seolah-olah', sekali lagi 'seolah-olah' dia melakukan 'dusta', tetapi kalau 'kedustaannya' menambah kemuliaan Tuhan, sepantasnya Paulus tidak lagi dihakimi (baca: dituduh sebagai pembohong/pendusta/pembuat salah).

Nah, menurut pemahaman saya, pengakuan Paulus yang 'seolah-olah' dia adalah pembohong/pendusta/pembuat salah (itukah breaks faith with God?), bukan benar-benar bahwa Paulus adalah pembohong/pendusta/pembuat salah. Karena itu pula maka saya bertanya, "Memang ada dusta Paulus? Di mana?"

Damai, damai, damai.
St Yopi:
Maksudnya seperti penjelasan diatas, yaitu Paulus dianggap "murtad", putus hubungan dengan Tuhan, yaitu "pindah" dari Yahudi ke Kristen.


Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar